Dari Rumah Nenek hingga Juara Nasional, Kisah Dayat Berkarya Lewat Film Pendek
Prestasi
membanggakan diraih oleh Dayat setelah berhasil meraih Juara 1 Nasional dalam
Lomba Film Pendek Milad 1 Dekade SUSKA TV. Pencapaian tersebut menjadi
pengalaman yang cukup mengejutkan baginya, terlebih kompetisi tersebut diikuti
oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Politeknik Negeri Media
Kreatif (Polimedia) dan IPB University.
Menariknya,
Dayat mengaku sejak awal tidak memiliki target untuk menjadi juara. Ia justru
mengikuti lomba tersebut untuk mengisi waktu libur semester. Sebelum pulang
dari kampus, ia memang sudah terbiasa mencari informasi mengenai berbagai
perlombaan di media sosial. Ketika menemukan lomba film pendek dengan tema yang
dekat dengan kehidupan masyarakat desa, ia pun tertarik untuk mencoba.
Dari tema
tersebut, muncul ide mengenai pilihan yang sering dihadapi anak-anak setelah
lulus sekolah, yaitu melanjutkan kuliah atau bekerja. Dayat kemudian mengambil
inspirasi dari kehidupan di sekitarnya. Ia menggunakan rumah neneknya yang
masih sederhana, dengan dinding kayu dan lantai tanah, sebagai lokasi utama
film. Bahkan, nenek dan kakeknya turut dilibatkan sebagai pemeran orang tua
dalam cerita.
Film
tersebut menggambarkan kehidupan seorang anak desa yang memiliki keinginan
untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi harus menghadapi
keadaan keluarga yang membuatnya memilih bekerja terlebih dahulu. Bagi Dayat,
cerita tersebut bukan sekadar tentang mengejar mimpi, tetapi juga tentang
memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan hidup yang berbeda.
“Menunda mimpi bukan berarti membuang mimpi. Mungkin memang belum waktunya
saja,” menjadi pesan yang ingin ia sampaikan melalui film tersebut.
Dalam
proses pembuatannya, Dayat tidak menggunakan banyak peralatan atau lokasi yang
mewah. Ia memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarnya. Kamera dan drone bahkan
dipinjam dari temannya, sementara suasana rumah nenek, jalan desa, suasana
pagi, hingga suara-suara alami dijadikan bagian dari film. Menurutnya, salah
satu hal penting dalam membuat karya adalah menemukan identitas yang
membedakannya dari karya lain. Ia juga memperbanyak referensi dari karya-karya
pemenang lomba sebelumnya dengan tema serupa untuk melihat hal-hal yang membuat
karya tersebut menarik. Selain itu, sebelum karya benar-benar dikirim, Dayat
terbiasa meminta pendapat dari orang lain. Tidak hanya dari teman yang memahami
videografi, ia juga terbuka menerima masukan dari orang tua maupun orang awam.
Baginya, sudut pandang yang beragam justru dapat membantu menemukan kekurangan
yang mungkin tidak disadari oleh pembuat karya.
Setelah meraih juara nasional, Dayat tidak ingin berhenti berkarya. Ia justru ingin membuat karya yang lebih berani dan mengangkat cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, cerita yang sederhana tetap bisa memberikan dampak apabila disampaikan dengan cara yang tepat. Dayat juga mengakui bahwa dirinya masih sering merasa kurang percaya diri terhadap karya yang dibuat. Bahkan sebelum mengirimkan film tersebut, sempat muncul keraguan apakah karyanya sudah cukup baik untuk mengikuti kompetisi. Namun, ia menyadari bahwa terlalu lama menunggu sampai merasa sempurna justru bisa membuat seseorang tidak pernah berani mengirimkan karyanya.
Karena
itu, ia mengajak mahasiswa untuk berani mencoba dan mengirimkan karya yang
sudah dibuat. Baginya, kalah bukanlah akhir dari proses, melainkan kesempatan
untuk mengetahui kekurangan dan belajar menjadi lebih baik. Sementara jika
berhasil meraih juara, kemenangan tersebut merupakan bonus dari keberanian
untuk mencoba. “Di TP tercinta ini siapa sih yang nggak support orang
produktif? Semua orang saling dukung kok,” ujarnya. Ia berharap semakin banyak
mahasiswa yang berani berkarya, mengikuti kompetisi, dan meninggalkan rekam
jejak positif selama masa perkuliahan. Sebab, satu karya yang berani dikirimkan
bisa menjadi langkah awal untuk menemukan potensi dan membuka kesempatan yang
lebih besar di masa depan.
Penulis: Aisyah Avrilia Nanda (2025C)