Kembangkan Gagasan Teknologi dan Lingkungan, Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNESA Raih Juara 2 dalam lomba esai
Mengikuti lomba tidak selalu harus diawali dengan persiapan yang panjang. Hal itu dibuktikan oleh Ghaitsa, mahasiswa Teknologi Pendidikan UNESA yang berhasil meraih Juara 2 dalam lomba esai Inspire Writing yang diselenggarakan oleh Duta Inspirasi Library dengan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Keikutsertaan
Ghaitsa dalam lomba ini berawal dari informasi yang ia dapatkan melalui grup
angkatan. Saat itu, ia sedang libur semester dan memiliki cukup banyak waktu
luang sambil menunggu kesempatan magang. Karena ingin mengisi waktu dengan
kegiatan yang bermanfaat, ia akhirnya mencoba mengikuti lomba tersebut. “Awalnya
sebenarnya iseng aja, sambil mengisi waktu luang. Kebetulan waktu itu sudah
libur semester dan saya baru daftar H-1 sebelum penutupan. Jadi, langsung saya
kerjakan hari itu juga,” cerita Ghaitsa.
Meskipun
hanya memiliki waktu yang singkat, ia tidak benar-benar memulai dari nol.
Pengalamannya mengikuti beberapa lomba saat SMA menjadi bekal dalam menyusun
esai. Namun, ia mengaku tidak menyangka bisa mendapatkan juara karena sudah
cukup lama tidak mengikuti kompetisi serupa.
Ketertarikannya mengikuti lomba semakin besar setelah membaca guidebook
yang diberikan panitia. Ia menemukan subtema yang cukup dekat dengan bidang
Teknologi Pendidikan. Dari sana, ia mulai mengembangkan ide untuk
mengintegrasikan teknologi ke dalam esainya.
Sesuai
dengan tema “Ketika Literasi Bertemu Aksi”, Ghaitsa ingin esainya tidak hanya
membahas sebuah permasalahan, tetapi juga memberikan gambaran tentang aksi yang
bisa dilakukan. Ia mengangkat isu mengenai masih minimnya peran generasi muda
dalam menghadapi permasalahan lingkungan. Melalui esainya, ia ingin menunjukkan
bahwa generasi muda, terutama yang bergerak di bidang teknologi dan pendidikan,
dapat ikut berperan dalam menciptakan inovasi yang menghubungkan kesadaran
dengan aksi nyata. Dengan begitu, teknologi dan pendidikan dapat menjadi bagian
dari upaya menciptakan masa depan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Dalam
membuat esai, Ghaitsa juga memiliki strategi yang menurutnya cukup penting,
yaitu menghadirkan solusi yang nyata. Baginya, esai tidak cukup hanya membahas
atau mengkritisi sebuah masalah, tetapi juga perlu menawarkan ide yang bisa
diterapkan. “Biasanya saya mencoba membuat ide atau produk nyata sebagai solusi
dari masalah yang dibahas. Jadi, tidak hanya mengkritisi, tetapi juga
memberikan solusi. Yang penting idenya matang dan memungkinkan untuk
direalisasikan,” jelasnya. Menurutnya, mematangkan ide juga menjadi hal yang
perlu diperhatikan oleh peserta lomba. Sebab, juri yang sudah berpengalaman
biasanya dapat melihat kekurangan atau celah dari sebuah gagasan yang masih
belum matang.
Bagi
Ghaitsa sendiri, mengikuti lomba esai bukan hanya tentang mendapatkan juara.
Kompetisi menjadi salah satu cara untuk melatih kreativitas, mengasah kemampuan
melihat permasalahan di sekitar, sekaligus belajar menciptakan solusi,
khususnya dalam bidang teknologi dan pendidikan. “Kalau nanti dapat juara atau
tidak, menurut saya tidak masalah. Bisa dijadikan bahan evaluasi. Berarti masih
ada bagian dari karya kita yang perlu diperbaiki,” ungkapnya. Ghaitsa juga
mengajak mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba mengikuti lomba esai agar
tidak terlalu takut untuk memulai. Menurutnya, pengalaman pertama justru bisa
menjadi kesempatan untuk mengetahui kemampuan dan kekurangan diri sendiri. “Yang
penting berani memulai dulu. Kalau kita tidak mulai, kita tidak akan tahu
kurangnya kita di mana. Dari pengalaman itu, kita bisa belajar, evaluasi, dan
menciptakan karya yang lebih inovatif lagi,” pesannya.
Kisah
Ghaitsa menjadi bukti bahwa sebuah pencapaian bisa berawal dari langkah
sederhana. Dengan berani mencoba, mengembangkan ide, dan terus melakukan
evaluasi, kesempatan untuk menghasilkan karya yang berdampak akan semakin
terbuka.
Penulis: Aisyah Avrilia Nanda (2025C)