Kunjungan ICEI ke FIP dan Teknologi Pendidikan UNESA Bahas AI dan Pentingnya Peran Manusia di Era Teknologi
Surabaya, — Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menerima kunjungan Dr. Jia Ying Neoh dari ICEI. Kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran perspektif mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan, khususnya bagaimana siswa perlu memahami dan menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Dalam diskusi bersama mahasiswa, Dr. Jia Ying Neoh melihat adanya perbedaan menarik dalam cara mahasiswa Indonesia dan Australia membahas AI. Menurutnya, pelajar Indonesia lebih sering mengutarakan penggunaan AI dengan kalangan komunitas. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai tanggung jawab sekolah, tetapi juga melibatkan orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Sementara itu, pembahasan mahasiswa Australia menurutnya lebih fokus pada individu, seperti kemampuan berpikir kritis dan penggunaan teknologi secara pribadi.
Selain itu, aktivitas mahasiswa Indonesia di media sosial menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Dr. Jia. Ia melihat pelajar Indonesia cenderung lebih aktif menggunakan media sosial dibandingkan pelajar di Australia. Penggunaan media sosial tersebut juga sering menjadi bagian dari pembahasan ketika mahasiswa membahas AI.
Dr. Jia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber informasi. Menurutnya, AI tetap memiliki kemungkinan menimbulkan bias, menghilangkan informasi tertentu, atau memberikan penekanan pada sudut pandang tertentu. Oleh karena itu, siswa perlu memahami bahwa AI merupakan alat yang dapat membantu proses belajar, bukan pengganti kemampuan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan. “AI hanyalah sumber informasi, bukan keseluruhan sumber informasi. Ia hanyalah alat,” jelas Dr. Jia dalam diskusi tersebut.
Ia juga menyoroti tantangan penggunaan AI di masa depan, terutama ketika tuntutan efisiensi dan keterbatasan waktu membuat manusia semakin bergantung pada teknologi. Menurutnya, mahasiswa perlu tetap mempertahankan agensi manusia agar penggunaan AI tidak menghilangkan proses berpikir dan pertimbangan manusia.
Bagi mahasiswa Teknologi Pendidikan, pesan tersebut menjadi relevan karena AI tidak hanya dipandang sebagai teknologi yang digunakan untuk mendukung pembelajaran. Dr. Jia berharap mahasiswa mampu melihat AI secara lebih luas, terutama AI generatif yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi cara manusia memahami dan memandang dunia.
Ia menekankan bahwa AI bukanlah teknologi yang sepenuhnya netral. Sistem AI dapat membawa bias tertentu sehingga penggunanya perlu memiliki kesadaran kritis ketika menerima informasi yang dihasilkan.
Kunjungan ini sekaligus memberikan perspektif bagi mahasiswa FIP dan Teknologi Pendidikan untuk lebih memahami bahwa perkembangan AI dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga mencakup nilai, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, serta peran manusia dalam menggunakannya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu memahami dampak dan keterbatasannya sehingga dapat memanfaatkan teknologi secara lebih bijaksana dalam konteks pendidikan.
Penulis: Chantika Yuliana Intan Purwanti (2025A)