Mahasiswa Teknologi Pendidikan Raih Gelar Runner Up Putra Putri FIP 2026
Surabaya - Pemilihan Putra Putri Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali digelar pada tahun 2026 sebagai agenda tahunan untuk memilih representasi Fakultas Fakultas Baru. Dalam ajang tersebut, mahasiswa Program Studi S1 Teknologi Pendidikan ikut berpartisipasi dan berhasil meraih gelar Runner Up Putra Putri FIP 2026. Pencapaian ini menjadi pengalaman sekaligus tanggung jawab baru bagi mahasiswa terpilih untuk mengembangkan diri dan memberikan kontribusi bagi lingkungan fakultas.
Pemilihan Putra Putri FIP merupakan kegiatan tahunan yang menjadi wadah pengembangan potensi mahasiswa sekaligus regenerasi lulusan fakultas dari periode sebelumnya. Melalui serangkaian tahapan seleksi, isolasi, hingga grand final, para peserta dituntut untuk menunjukkan kemampuan, kepercayaan diri, keterampilan komunikasi, serta kepedulian terhadap isu-isu di lingkungan masyarakat.
Salah satu mahasiswa yang memperoleh gelar Runner Up, Mochamad Praju Ali Langgeng, memaknai pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan melewati seleksi, melainkan tanggung jawab untuk terus berkembang dan memberikan dampak positif. Menurutnya, gelar yang diperoleh merupakan simbol dari proses dan perjuangan yang telah dilalui. "Gelar bagi saya adalah simbol dari proses, perjuangan, dan pengalaman. Gelar yang saya dapatkan harus dimanfaatkan untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar," ungkap Praju.
Pengalaman selama seleksi juga memberikan perubahan terhadap cara Maharani Ajeng Kamaratih memandang kemampuan dirinya. Ia mengaku sempat meremehkan kemampuannya untuk mencapai tahap tersebut. Namun, keberhasilannya melaju ke Top 6 setelah sesi wawancara menjadikannya lebih optimis dan percaya terhadap potensi diri. “Satu hal yang saya pelajari tentang diri saya sendiri adalah terkait ketahanan diri. Saya mampu mengikuti berbagai seleksi seleksi, karantina, dan grand final hingga akhir,” tuturnya.
Sementara itu, Muhammad Rafli Ardiansyah memaknai gelar Runner Up sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjadi representasi Fakultas Ilmu Pendidikan. Baginya, peran tersebut tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kontribusi dan motivasi yang dapat diberikan kepada siswa lainnya. Ia menyebut pidato advokasi sebagai salah satu tahap yang paling membentuk dirinya karena harus menyampaikan visi, misi, dan program kerja di hadapan banyak orang.
Dalam menjalani rangkaian seleksi, ketiganya juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara kegiatan pemilihan dan tanggung jawab akademik. Praju menerapkan skala prioritas, Maharani tetap menyelesaikan tugas perkuliahan setelah rangkaian kegiatan seleksi, sedangkan Rafli menyusun jadwal melalui buku catatan dan berkoordinasi dengan teman ketika terdapat agenda yang berbenturan.
Selain pengalaman dan pengembangan diri, ajang ini juga menjadi kesempatan bagi para finalis untuk menyampaikan gagasan melalui advokasi. Rafli berharap gagasan yang telah disampaikannya selama seleksi dapat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan inklusif. “Dari advokasi saya kemarin, semoga dari banyak kalangan bisa memberikan fasilitas yang lebih layak untuk pendidikan inklusif,” harapnya.
Melalui pencapaian dalam Pemilihan Putra Putri FIP 2026, para mahasiswa Teknologi Pendidikan tersebut diharapkan dapat menjalankan peran barunya dengan terus mengembangkan potensi diri, menjaga nama fakultas dengan baik, serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Penulis: Chantika Yuliana Intan Purwanti (2025A)