Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNESA Raih Juara Favorit Nasional dalam Kompetisi Videografi
Surabaya, Tiga mahasiswa Program Studi S1
Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rania, Abel, dan
Kharis, berhasil meraih Juara Favorit Nasional dalam “National Creative
Videography Wellbeing Content Competition pada 11th Counseling Festival”. Kompetisi
tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Prestasi tersebut
menjadi pencapaian pertama bagi ketiganya sejak berstatus sebagai mahasiswa
Teknologi Pendidikan. Kompetisi dengan tema “Agent of Wellbeing”
tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan di bidang
videografi sekaligus menyampaikan pesan positif melalui media digital.
Rania
mengatakan kompetisi tersebut awalnya diketahui melalui seorang temannya yang
berasal dari Program Studi Bimbingan Konseling Islam UIN Tulungagung.
Ketertarikannya mengikuti kompetisi muncul karena tema yang diangkat relevan
dengan minatnya di bidang videografi dan content creation. “Lomba ini
juga merupakan lomba pertama kami semenjak kami menjadi mahasiswa Teknologi
Pendidikan, dan mungkin ini juga jadi awal mula bagaimana nantinya kita bisa
terus berkembang dan juga bisa mengikuti lomba-lomba dan memberikan prestasi
yang lainnya juga untuk TP tentunya,” ujar Rania.
Hal serupa
disampaikan Abel. Ia mengaku senang ketika timnya berhasil meraih Juara Favorit
Nasional, terlebih kompetisi tersebut merupakan lomba pertama yang mereka ikuti
sebagai mahasiswa. “Alhamdulillahnya dari lomba tersebut, kami berhasil
mendapat juara favorit nasional. Lomba ini juga menjadi lomba pertama yang kami
ikuti, jadi ketika kami menjadi juara, kami tentunya sangat senang dan
berterima kasih kepada teman-teman sudah bantu support kita,” kata Abel.
Sementara
itu, Kharis menilai pencapaian tersebut menjadi momen yang membanggakan karena
sejak awal tim tidak menargetkan gelar Juara Favorit Nasional. Menurutnya,
kerja keras dan konsistensi selama proses produksi menjadi salah satu faktor
yang membawa mereka meraih prestasi tersebut. “Kerja keras dan konsistensi kami
selama proses produksi itu bisa membuahkan hasil yang manis. Apalagi melihat
antusiasme audiens yang luar biasa, itu rasanya jadi bukti kalau karya
kecil dari anak TP bisa bersaing di level nasional,” ungkap Kharis.
Dalam
proses produksinya, ketiganya terlebih dahulu memahami tema “Agent of
Wellbeing” dan mendiskusikan permasalahan yang dekat dengan kehidupan
mahasiswa. Mereka kemudian melakukan riset sederhana, menentukan konsep,
menyusun script, hingga menentukan alur cerita yang akan disampaikan melalui
video.
Proses
kreatif dilakukan secara bersama melalui brainstorming dan diskusi. Setelah
script selesai, mereka menentukan jadwal pengambilan gambar. Rania bertanggung
jawab sebagai kameramen sekaligus editor, sedangkan Abel dan Kharis berperan
dalam penyusunan script serta menjadi talent dalam video.
Dalam
tahap editing, tim memperhatikan berbagai unsur visual, seperti color
grading, transisi, backsound, dan gerakan kamera untuk memperkuat storytelling.
Mereka juga memasukkan adegan yang dekat dengan keseharian mahasiswa agar pesan
dalam video lebih mudah diterima oleh audiens. Kharis menjelaskan bahwa tim
berusaha membuat video dengan alur yang ringan namun tetap memiliki pesan yang
kuat. Mereka tidak menggunakan pendekatan yang terlalu formal agar audiens
dapat merasa lebih terlibat dengan cerita yang disampaikan. “Jalan ceritanya
yang ringan tapi menyentuh. Kami engga pakai gaya penyampaian yang terlalu
formal atau menggurui audiens, tapi lebih ke mengajak audiens buat ngerasa
terlibat,” jelas Kharis. Keunikan lain dalam video tersebut terdapat pada
penggunaan visual yang dinamis serta penyisipan adegan humor di awal video.
Abel mengatakan adegan tersebut dibuat agar video tidak terlalu serius dan
dapat menarik perhatian penonton hingga akhir.
Perolehan
Juara Favorit Nasional juga tidak terlepas dari dukungan penonton. Kategori
tersebut ditentukan berdasarkan interaksi audiens terhadap video, seperti
jumlah like, komentar, share, dan repost. Setelah video dipublikasikan,
tim mengajak berbagai pihak untuk memberikan dukungan melalui media sosial.
Mereka membagikan video melalui Instagram Story, grup perkuliahan,
sekolah, hingga grup keluarga. “Pengaruhnya tentunya besar banget, karena dari
awal kita sudah punya prinsip kalau belum bisa jadi juara 1, 2, 3, maka kita
harus bisa jadi juara favorit,” ujar Abel.
Pengalaman
tersebut mendorong ketiganya untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang
videografi dan content creation. Mereka juga menjadikan kompetisi tersebut
sebagai bahan evaluasi untuk mengikuti kompetisi berikutnya dan memperbaiki
kekurangan yang masih dimiliki.
Rania
berharap mahasiswa tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi meskipun belum
memiliki kemampuan yang sempurna. Menurutnya, kemenangan maupun kekalahan dapat
menjadi pengalaman untuk mengembangkan potensi. “Intinya kalian kalau mau ikut
lomba jangan berkecil hati andaikan kalah ataupun jangan sombong juga kalau
menang. Intinya anggaplah lomba itu menjadi suatu pengalaman yang akan
membentuk bagaimana potensi dan skill kalian,” tutur Rania.
Kharis
turut mengajak mahasiswa Teknologi Pendidikan untuk berani mencoba dan
menghasilkan karya. Ia menilai setiap karya memiliki potensi untuk memberikan
manfaat bagi orang lain. “Engga perlu sempurna di awal, yang penting berani
mulai. Dan yang paling penting jangan lupa menjaga wellbeing diri
sendiri selama proses berkarya, karena karya terbaik itu lahir dari orang yang
sehat secara mental dan fisik,” pungkasnya.
Penulis: Chantika Yuliana Intan Purwanti
(2025A)