Bekerja di Dunia Virtual: Transformasi Budaya Kerja Melalui Teknologi VR
Dalam sebuah wawancara santai di ruang virtual Spatial, Abby—VP of Marketing di perusahaan Larval—berbagi pengalaman uniknya tentang bagaimana tim mereka memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) sebagai ruang kerja utama. Awalnya, mereka hanya ingin bereksperimen dengan VR untuk menampilkan data medis dan onkologi secara interaktif. Namun, seiring berjalannya waktu, Larval menemukan bahwa VR bukan sekadar alat kerja, melainkan jembatan untuk membangun kolaborasi dan kebersamaan dalam tim yang telah bekerja jarak jauh selama hampir dua dekade.
Abby mengakui bahwa awalnya ia sama sekali tidak membayangkan akan bekerja menggunakan headset VR setiap hari. Sebelumnya, pengalaman kerjanya terbatas pada model work from home tradisional dengan video conference. Namun, begitu mulai menggunakan VR, ia merasakan perbedaan yang signifikan—dari sekadar menatap layar menjadi benar-benar “hadir” di ruang bersama rekan kerja, meski secara digital. Adaptasi memang tidak mudah; banyak anggota tim yang mengalami mabuk virtual di awal, tetapi setelah memahami cara kerja dan navigasi di dunia VR, semuanya terasa lebih alami.
Salah satu keunggulan utama yang dirasakan oleh tim Larval adalah meningkatnya rasa kebersamaan dan budaya perusahaan. Melalui interaksi virtual seperti bertepuk tangan, berpelukan, atau sekadar berbincang santai setelah rapat, tim yang tersebar di berbagai negara dapat merasa lebih dekat. Menurut Abby, VR memberi sensasi kehadiran sosial yang tidak bisa digantikan oleh platform video biasa. Bahkan, mereka kini menjadikan VR bukan hanya alat kerja, tetapi juga media utama untuk memperkuat identitas perusahaan yang “inovatif dan futuristik”.
Larval juga menggunakan ruang virtual untuk berinteraksi dengan klien di industri farmasi dan bioteknologi. Salah satu proyek kreatif mereka adalah membuat galeri NFT bertema medis, di mana klien dapat menghadiri pameran virtual bertabur bintang dan menikmati karya seni digital. Acara tersebut tidak hanya menarik perhatian para profesional, tetapi juga memperkenalkan konsep metaverse dalam konteks profesional dan edukatif. Dengan pengalaman semacam ini, Larval berhasil menunjukkan bagaimana VR bisa menjadi jembatan antara teknologi, sains, dan manusia.
Bagi Abby, konsep metaverse bukan hanya tren, tetapi visi masa depan. Ia menggambarkannya sebagai “tujuan misi” bagi perusahaan—layaknya perjalanan ke Mars bagi Elon Musk. Metaverse adalah ruang kerja dan interaksi generasi berikutnya, tempat semua kegiatan profesional, sosial, dan edukatif dapat berpadu secara alami. Dengan semangat itu, Larval terus bereksperimen untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbuka, interaktif, dan menyenangkan di dunia virtual.
Kini, setelah setahun penuh beroperasi dengan sistem “VR-first”, Larval membuktikan bahwa masa depan kerja tidak terbatas pada ruang fisik. Bekerja di dunia virtual justru membawa makna baru tentang kolaborasi, kreativitas, dan empati digital. Dalam dunia di mana batas ruang semakin kabur, Larval menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat untuk bekerja—tetapi juga medium untuk membangun koneksi manusiawi yang lebih dalam.
Source: Youtube Spatial