Belajar Tenang dan Tangguh dari Filsafat Kuno
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang sering merasa cemas, galau, dan kehilangan arah. Masalah seolah datang silih berganti tanpa henti, membuat sebagian orang memilih beragam cara untuk menenangkan diri — mulai dari berdoa, mencari nasihat profesional, hingga kadang terjebak pada tindakan destruktif. Namun, jauh sebelum terapi modern dikenal, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, ada sebuah filsafat yang telah menawarkan cara menghadapi emosi negatif dengan bijak. Filsafat itu dikenal dengan nama stoikisme, atau dalam versi populer Indonesia, Filosofi Teras.
Stoikisme lahir di Yunani kuno sekitar tahun 300 SM melalui ajaran Zeno dari Citium. Ia menemukan prinsip hidup baru setelah kehilangan seluruh harta benda dalam kecelakaan kapal. Dari pengalaman pahit itu, Zeno belajar bahwa ketenangan sejati tidak datang dari kekayaan atau kondisi luar, melainkan dari cara manusia mengendalikan pikirannya. Ia mulai mengajar di sebuah teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, dan dari situlah istilah stoikisme berasal.
Henry Manampiring dalam bukunya Filosofi Teras mengajak pembaca masa kini untuk mengenal kembali ajaran stoikisme dan menerapkannya dalam kehidupan modern. Menurutnya, ajaran ini dapat membantu siapa pun menghadapi stres, kekecewaan, dan tekanan hidup dengan lebih tenang dan rasional. Stoikisme tidak menjanjikan kebahagiaan instan, tetapi mengajarkan ketenangan yang kokoh, karena bersumber dari kekuatan batin yang stabil.
Ada dua tujuan utama dalam ajaran stoikisme: pertama, membebaskan diri dari emosi negatif seperti marah, iri, atau sedih berlebihan; dan kedua, hidup dengan kebaikan, sesuai dengan nilai-nilai manusia yang seharusnya. Untuk mencapai dua tujuan ini, penganut stoikisme diajak memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan, dan menerima dengan ikhlas hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Prinsip ini dikenal sebagai dikotomi kendali, yang pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Epictetus.
Hal-hal yang tidak bisa dikendalikan mencakup opini orang lain, cuaca, keberuntungan, atau kondisi fisik tertentu. Sebaliknya, hal-hal yang bisa dikendalikan adalah sikap, pikiran, dan reaksi kita terhadap setiap peristiwa. Menurut Henry, kesalahan banyak orang adalah menaruh kebahagiaan pada hal-hal di luar kendali mereka. Padahal, kebahagiaan sejati justru muncul ketika seseorang mampu menerima kenyataan dengan lapang dan mengatur pikirannya sendiri.
Filosofi Teras juga menyoroti empat kebajikan utama dalam stoikisme: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri. Kebijaksanaan mengajarkan kemampuan menilai dan mengambil keputusan terbaik; keadilan menuntun kita untuk memperlakukan orang lain secara jujur; keberanian membuat kita teguh dalam prinsip; dan pengendalian diri membantu kita hidup sederhana serta terhindar dari godaan hawa nafsu. Keempatnya menjadi fondasi agar manusia bisa menjalani hidup dengan bermartabat dan damai.
Salah satu pelajaran penting dari stoikisme adalah bahwa setiap peristiwa di dunia ini bersifat netral. Yang membuatnya terasa buruk atau menyakitkan adalah persepsi kita sendiri. Misalnya, kehilangan pekerjaan bisa dianggap malapetaka, tetapi bisa juga dilihat sebagai kesempatan untuk memulai hal baru. Dengan mengubah cara berpikir, manusia dapat mengubah pengalaman emosionalnya tanpa harus mengubah kenyataan di luar dirinya. Stoikisme mengajarkan bahwa sumber penderitaan bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan interpretasi kita terhadapnya.
Untuk memperkuat mental, Henry memperkenalkan konsep premeditatio malorum, atau latihan membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Sekilas tampak seperti berpikir negatif, tetapi sebenarnya ini adalah cara mempersiapkan diri agar tidak panik ketika menghadapi kenyataan pahit. Sama seperti vaksin, latihan ini membangun ketahanan mental sehingga seseorang siap menghadapi kesulitan dengan kepala dingin dan hati yang tenang.
Ajaran lain yang menarik dari stoikisme adalah konsep amor fati, yang berarti mencintai takdir. Seseorang yang menerapkan prinsip ini tidak hanya menerima keadaan hidupnya, tetapi juga mencintainya sepenuh hati. Ia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, adalah bagian dari keteraturan alam semesta. Dengan mencintai nasib sendiri, manusia berhenti melawan kenyataan dan menemukan kedamaian sejati dalam penerimaan.
Melalui Filosofi Teras, Henry Manampiring menunjukkan bahwa ajaran kuno bisa sangat relevan bagi generasi modern. Di era media sosial yang penuh tekanan dan opini, stoikisme menjadi panduan untuk tetap waras, tidak reaktif, dan fokus pada hal-hal esensial. Filsafat ini mengingatkan bahwa kedamaian batin tidak datang dari dunia luar, tetapi dari pikiran yang mampu berdamai dengan kenyataan.
Filosofi Teras bukan sekadar buku filsafat, melainkan panduan praktis untuk hidup lebih sadar dan berimbang. Ia mengajarkan bahwa setiap masalah akan selalu datang, tetapi cara kita menyikapinya menentukan kebahagiaan hidup. Dengan mengendalikan diri, berpikir rasional, dan mencintai hidup apa adanya, manusia dapat menemukan ketenangan sejati bahkan di tengah kekacauan dunia.