Big Tech dan Masa Depan Pendidikan, Antara Inovasi dan Eksperimen yang Tak Terkendali
Selama beberapa dekade terakhir, perusahaan teknologi terbesar di dunia telah menjual visi masa depan digital kepada sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Mereka datang dengan janji bahwa perangkat, aplikasi, dan platform baru akan membawa pendidikan ke abad ke-21. Sekolah-sekolah dijanjikan efisiensi, guru yang lebih bahagia, dan siswa yang lebih pintar. Namun, di balik gemerlap janji tersebut, muncul kekhawatiran bahwa pendidikan tengah menjadi lahan eksperimen besar tanpa kendali yang jelas.
Tren ini mulai mencuat sekitar tahun 2012, ketika hasil tes nasional menunjukkan penurunan prestasi siswa di seluruh negeri — bertepatan dengan saat teknologi digital, terutama perangkat pribadi, mulai diperkenalkan secara masif di ruang kelas. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai “eksperimen pendidikan terbesar tanpa pengawasan,” di mana anak-anak diposisikan sebagai pengguna sekaligus target pasar teknologi sejak usia sekolah.
Google menjadi pemain utama dalam fenomena ini melalui peluncuran Chromebook pada 2011. Awalnya perangkat ini dianggap gagal karena fiturnya terbatas dan bergantung sepenuhnya pada koneksi internet. Namun, keunggulan harga yang jauh lebih murah membuat Google mampu menembus pasar sekolah. Dengan strategi pemasaran yang agresif dan menggandeng guru sebagai duta, Chromebook dengan cepat mendominasi pasar pendidikan. Pada tahun 2016, lebih dari separuh dari 13 juta perangkat yang dibeli sekolah-sekolah Amerika adalah Chromebook.
Keberhasilan Chromebook hanyalah awal dari ekspansi industri EdTech (Educational Technology) yang kini mencakup hampir semua aspek pendidikan: mulai dari perangkat keras, platform pembelajaran, hingga sistem manajemen kelas seperti Google Classroom. Seiring waktu, nilai pasar EdTech di AS meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2012 dan diperkirakan akan terus tumbuh hingga lebih dari 100 miliar dolar dalam dekade mendatang. Pandemi Covid-19 menjadi katalis yang mempercepat transformasi ini, karena sekolah terpaksa mengandalkan teknologi digital untuk menjaga proses belajar tetap berjalan.
Namun, di balik pertumbuhan pesat tersebut, muncul pertanyaan besar: apa sebenarnya yang diinginkan perusahaan teknologi dari dunia pendidikan? Selain citra sosial dan keuntungan jangka pendek dari penjualan perangkat, mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga — data siswa. Data perilaku, kebiasaan digital, dan interaksi belajar anak-anak menjadi komoditas bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk strategi pemasaran dan pengembangan produk di masa depan. Meskipun perusahaan seperti Google menyangkal memanfaatkan data siswa untuk iklan, beberapa kasus hukum membuktikan sebaliknya.
Dampak lain yang lebih mencemaskan adalah menurunnya kualitas pembelajaran. Penelitian global seperti Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan penurunan skor literasi, matematika, dan sains sejak dekade terakhir. Para ahli neurosains seperti Dr. Jared Cooney Horvath menyebut bahwa paparan teknologi berlebih membuat anak-anak kehilangan fokus dan kemampuan berpikir mendalam. Mereka terbiasa melakukan multitasking digital, yang justru menghambat proses belajar, mengurangi daya ingat, dan memperpendek rentang perhatian.
Tidak hanya itu, meningkatnya penggunaan perangkat digital di sekolah juga berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan di kalangan remaja. Banyak siswa kini mengandalkan layar untuk pelarian emosional — menonton video, bermain gim, atau mendengarkan musik — sebagai pengganti interaksi sosial dan refleksi diri. Beberapa guru yang beralih kembali ke metode konvensional seperti ujian kertas justru melaporkan peningkatan partisipasi dan hasil belajar siswa, seolah menunjukkan bahwa pembelajaran digital bukanlah solusi universal.
Kesadaran akan dampak negatif ini mulai memicu perubahan kebijakan di beberapa negara. Pemerintah Swedia, misalnya, telah mengumumkan kebijakan baru yang menekankan kembali pembelajaran tradisional berbasis buku dan tulisan tangan, khususnya untuk anak-anak usia dini. Di Amerika Serikat, sejumlah distrik sekolah mulai mengevaluasi ulang penggunaan Chromebook dan perangkat digital lainnya, dengan alasan gangguan terhadap fokus dan kesehatan mental siswa.
Namun, sebelum kritik terhadap teknologi di sekolah sempat mereda, industri EdTech kini memperkenalkan gelombang baru: kecerdasan buatan (AI). Perusahaan besar seperti Google, Microsoft, OpenAI, dan Canvas telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan. Narasi yang digunakan terasa familiar: AI dianggap sebagai “alat masa depan” yang harus dipelajari sejak dini agar siswa tidak tertinggal. Pemerintah pun ikut mendukung, dengan kebijakan pendanaan federal dan janji mencetak tenaga kerja siap-AI.
Meski tampak menjanjikan, banyak ahli memperingatkan bahwa ketergantungan pada AI dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan memperbesar risiko penyebaran misinformasi di ruang kelas. AI bukan alat untuk belajar berpikir, melainkan alat untuk menghindari berpikir jika digunakan tanpa pengawasan dan pemahaman yang mendalam. Dunia pendidikan perlu menilai secara hati-hati sebelum menyerahkan proses pembelajaran kepada algoritma yang bahkan belum sepenuhnya dipahami dampaknya.