Cara Memilih Warna yang Tepat Untuk Situs Web atau Aplikasi Anda
Bagaimana memilih dan mengelola warna dalam desain produk digital seperti aplikasi atau website? Langkah-langkah praktis untuk membangun sistem warna yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga terukur (scalable), mudah diakses (accessible), dan selaras secara estetika (harmonious).
1. Pemahaman Dasar dan Psikologi Warna
konsep penting mengenai pemilihan warna berdasarkan target audiens yang menekankan dua aspek utama:
-
Psikologi warna, yaitu bagaimana warna memengaruhi emosi manusia. Misalnya, merah melambangkan energi dan keberanian, cocok untuk merek yang ingin tampil berani dan menonjol.
-
Makna budaya dari warna, karena arti warna dapat berbeda antarnegara. Contohnya, merah di Tiongkok berarti keberuntungan, tetapi di Afrika Selatan justru diasosiasikan dengan duka atau bahaya.
Bagian ini mengingatkan bahwa desainer perlu peka terhadap konteks audiens global sebelum menentukan palet utama.
2. Prinsip Proporsi Warna: Aturan 60–30–10
aturan 60–30–10, prinsip yang awalnya digunakan dalam desain interior tetapi juga relevan untuk UI.
-
60% warna dominan,
-
30% warna sekunder,
-
10% warna aksen.
Aturan ini membantu menjaga keseimbangan visual dan mencegah antarmuka menjadi terlalu ramai, hal ini hanyalah pedoman fleksibel, bukan aturan mutlak.
3. Jenis-Jenis Palet Warna
berbagai jenis warna yang perlu ada dalam sistem desain:
-
Warna primer, digunakan paling sering (sekitar 60%) dan mencerminkan identitas merek. Contohnya, Atlassian menggunakan tiga warna primer konsisten di seluruh produknya.
-
Warna aksen, untuk menyoroti elemen penting atau tombol aksi (CTA). misalnya, menunjukkan cara menemukan warna aksen melalui Adobe Color menggunakan prinsip complementary color harmony.
-
Warna sekunder, menambah variasi dan mendukung kesan visual tanpa mengganggu identitas merek.
-
Warna netral, sangat penting untuk elemen latar, teks, atau batas. Disarankan menambahkan sedikit tint biru agar tidak terlihat membosankan.
-
Warna semantik, digunakan untuk status seperti error (merah), peringatan (oranye), sukses (hijau), dan informasi (biru). empat warna semantik ini sudah dikenal secara universal, sehingga tidak perlu “menciptakan ulang” arti warna baru bagi pengguna.
4. Aksesibilitas Warna
Pentingnya aksesibilitas, kombinasi warna harus mengikuti WCAG (Web Content Accessibility Guidelines), terutama dalam hal rasio kontras minimal 4.5:1 antara teks dan latar belakang. Beberapa alat bantu yang direkomendasikan termasuk:
-
Coolors.co untuk menguji kontras,
-
Figma plugin A11y Color Contrast Checker oleh Microsoft.
Perbedaan persepsi warna antara mode terang dan gelap, serta kondisi pencahayaan pengguna (siang/malam), yang dapat memengaruhi pengalaman visual.
5. Contoh
Contoh penerapan palet minimal dari Airbnb dan YouTube, dua platform besar yang sukses menjaga fokus pengguna dengan sedikit warna utama.
Airbnb menggunakan warna yang lembut dan elemen gambar dominan, sedangkan YouTube mengandalkan merah dan putih agar tombol “Subscribe” menjadi titik perhatian utama.
Terlalu banyak warna membuat antarmuka kehilangan hierarki visual, sehingga pengguna bingung menentukan fokus.
6. Alat dan Sumber Daya Pendukung
Tools inspiratif untuk eksplorasi warna:
-
MyMind dan Pinterest untuk mencari kombinasi warna yang menarik,
-
Dribbble untuk melihat desain berdasarkan filter warna tertentu,
-
Adobe Color – Extract Theme untuk mengambil palet dari gambar,
-
Coolors.co dan Lapa Ninja untuk menghasilkan palet tren dengan cepat.