Burn Book: A Tech Love Story karya Kara Swisher adalah sebuah catatan personal yang tajam, lugas, dan penuh ironi tentang dunia teknologi yang telah membentuk abad ke-21. Sebagai salah satu jurnalis teknologi paling berpengaruh, Swisher menuliskan kisahnya seperti seseorang yang mengenal industri ini dari dalam—baik sisi kejayaannya maupun kekacauannya. Ia menyuguhkan narasi yang bukan sekadar dokumentasi peristiwa, tetapi juga refleksi emosional tentang hubungan cinta-benci terhadap dunia yang ikut ia bangun dan amati selama puluhan tahun.
Melalui gaya bercerita yang tegas dan tanpa kompromi, Swisher mengajak pembaca masuk ke ruang-ruang rapat Silicon Valley, pertemuan pribadi dengan para tokoh besar seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dan tokoh-tokoh lain yang telah—baik secara sadar maupun tidak—mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Di setiap kisah, Swisher tidak sekadar mengungkapkan fakta, tetapi juga dinamika ego, obsesi, ambisi, dan ketidaksempurnaan para penguasa masa depan tersebut.
Buku ini bukan pujian terhadap teknologi, tetapi juga bukan kecaman sepihak. Burn Book justru menjadi upaya Swisher untuk menimbang ulang dampak sosial dan etis dari inovasi yang terlalu cepat dan terlalu besar. Ia menunjukkan bagaimana industri teknologi dipenuhi keputusan-keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, dan bagaimana budaya “move fast and break things” sering kali benar-benar berujung pada kerusakan—baik pada komunitas, demokrasi, maupun kesehatan mental pengguna.
Dalam lapisan yang lebih emosional, Swisher juga menyingkap sisi personal perjalanan kariernya sebagai jurnalis perempuan yang harus menghadapi seksisme, tekanan, serta perjuangan membangun kredibilitas di dunia yang didominasi laki-laki. Keberaniannya untuk tetap kritis, bahkan terhadap figur-figur yang sangat berkuasa, menjadi benang merah yang memperkuat seluruh narasi buku.
Burn Book pada akhirnya adalah kisah tentang cinta pada visi besar teknologi—potensinya untuk membuka peluang, memperbaiki dunia, dan menghubungkan manusia—namun juga tentang kekecewaan pada keserakahan, kelalaian moral, dan ketamakan yang membayanginya. Swisher menulis seperti seseorang yang tidak ingin membiarkan industri ini hanyut tanpa kritikan yang jujur. Lewat bukunya, ia mengingatkan bahwa masa depan teknologi bukan hanya soal apa yang dapat dibuat, tetapi apa yang seharusnya dibuat. Sebuah bacaan yang tajam, reflektif, dan membuka mata bagi siapa pun yang ingin memahami Silicon Valley lebih jauh dari sekadar mitos kejayaannya.