Literasi sebagai Gerakan Pembebasan
Dalam Literacy Is Liberation: Working Toward Justice Through Culturally Relevant Teaching, Kimberly N. Parker menghadirkan sebuah seruan kuat untuk melihat literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai jalan menuju kebebasan, keberdayaan, dan keadilan sosial. Melalui gaya penulisan yang jujur, personal, dan penuh kepekaan sosial, Parker mengajak pembaca memahami bahwa literasi dapat menjadi alat transformasi bagi siswa—terutama mereka yang berasal dari komunitas yang selama ini kurang terwakili dan sering disalahpahami dalam ruang pendidikan formal.
Parker menekankan bahwa pengajaran literasi harus berakar pada pengalaman hidup, identitas, dan budaya siswa. Ia menunjukkan bahwa terlalu sering, sekolah justru menghapus atau mengabaikan kekayaan budaya siswa kulit hitam dan kelompok minoritas lainnya, lalu menggantinya dengan teks, metode, dan ekspektasi yang tidak mencerminkan kehidupan mereka. Dengan tegas Parker menyatakan bahwa literasi yang relevan secara budaya bukanlah pilihan tambahan, tetapi sebuah kebutuhan mendasar untuk menciptakan pendidikan yang adil dan bermakna.
Dalam berbagai refleksi dan studi kasus yang ia bagikan, Parker menggambarkan bagaimana siswa berkembang ketika mereka diberi kesempatan untuk membaca karya-karya yang mencerminkan realitas mereka, berbicara tentang kehidupan mereka, serta menciptakan narasi yang memberi ruang bagi suara yang selama ini terbungkam. Parker memperlihatkan bahwa literasi yang membebaskan tidak hanya membangun kecakapan akademik, tetapi juga menumbuhkan harga diri, kepercayaan diri, dan kemampuan berpikir kritis.
Buku ini juga menyoroti pentingnya peran guru sebagai agen perubahan. Parker menantang pendidik untuk mengubah cara pandang mereka tentang siapa yang dianggap “pelajar yang baik,” apa yang disebut “teks yang berkualitas,” dan bagaimana “pembelajaran yang efektif” seharusnya terlihat. Ia mengajak guru untuk lebih sadar terhadap bias yang tidak disadari serta struktur pendidikan yang menghambat pertumbuhan siswa tertentu. Parker mengingatkan bahwa mengajar secara relevan budaya berarti bekerja secara sengaja, penuh empati, dan berkomitmen untuk melihat siswa sebagai individu yang utuh—bukan sekadar penerima kurikulum.
Melalui tulisannya, Parker juga menekankan bahwa literasi adalah kekuatan. Ketika siswa mampu memahami, mengkritisi, dan menciptakan teks, mereka sedang membangun kapasitas untuk menantang narasi dominan yang seringkali mengecilkan pengalaman mereka. Literasi menjadi alat untuk melawan ketidakadilan, melindungi diri, serta membangun masa depan yang lebih setara. Inilah esensi dari literasi sebagai pembebasan.
Literacy Is Liberation bukan hanya panduan pedagogis, tetapi juga manifesto moral bagi dunia pendidikan. Parker tidak menawarkan solusi instan, melainkan sebuah visi yang membutuhkan kerja berkelanjutan, refleksi mendalam, dan keberanian untuk mengubah praktik yang selama ini dianggap “normal.” Buku ini memberi dorongan bagi para pendidik untuk memulai percakapan penting—tentang siapa yang diuntungkan oleh sistem pendidikan saat ini dan siapa yang tertinggal.
Ketika Parker mengajak guru bekerja menuju keadilan melalui praktik literasi yang relevan budaya, ia memberikan peta jalan yang penuh empati dan kekuatan. Ia menunjukkan bahwa keadilan dalam pendidikan hanya dapat tercapai saat suara siswa dihargai, pengalaman mereka diakui, dan identitas mereka dijadikan sumber pengetahuan.
Bagi guru, pemimpin sekolah, peneliti, dan siapa pun yang peduli pada literasi dan keadilan pendidikan, buku ini adalah bacaan yang menggugah, menantang, sekaligus memotivasi. Literacy Is Liberation mengingatkan kita bahwa pendidikan yang benar-benar memerdekakan hanya dapat tercipta ketika literasi digunakan sebagai alat untuk membuka pintu—bukan menutupnya.