Masa Depan Pendidikan Indonesia di Era STEM dan Kecerdasan Buatan
Pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan penting antara tradisi dan inovasi. Tantangan global dan kemajuan teknologi menuntut sistem pendidikan untuk bergerak lebih cepat, lebih adaptif, dan lebih relevan. Prof. Abdul Mu’ti, tokoh pendidikan dan pemikir kebangsaan dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menekankan bahwa masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan kita mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) dengan nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang kuat. Integrasi ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan kebutuhan nyata di tengah transformasi digital yang melanda seluruh aspek kehidupan.
Dalam wawancaranya, Prof. Mu’ti menyoroti bahwa pendidikan tidak boleh lagi terjebak pada hafalan dan rutinitas administratif. Dunia kerja dan masyarakat kini menuntut kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kreativitas. Di sinilah pendidikan STEM memainkan peran penting. Namun, ia mengingatkan, pendekatan STEM bukan hanya soal penguasaan teknologi, tetapi juga cara berpikir ilmiah yang disertai dengan kesadaran etis. Tanpa dimensi kemanusiaan, pendidikan teknologi bisa melahirkan manusia cerdas tetapi tidak bijak.
Lebih jauh, Prof. Mu’ti menilai bahwa penerapan kecerdasan buatan (AI) di bidang pendidikan harus diarahkan untuk memperkuat peran guru, bukan menggantikannya. Guru tetap menjadi jantung pendidikan yang menanamkan nilai, empati, dan makna belajar. AI bisa menjadi alat bantu luar biasa untuk menganalisis data belajar siswa, memberikan umpan balik cepat, atau merancang pembelajaran adaptif. Namun, AI tidak mampu menggantikan sentuhan emosional dan kebijaksanaan manusia yang hanya bisa diberikan oleh guru.
Beliau juga menggarisbawahi bahwa digitalisasi sekolah tidak boleh menciptakan kesenjangan baru antara mereka yang memiliki akses teknologi dan yang tidak. Pemerataan akses internet, perangkat digital, dan pelatihan bagi guru menjadi keharusan. “Kita tidak bisa bicara tentang pendidikan masa depan kalau masih banyak sekolah yang bahkan tidak punya listrik atau jaringan internet,” tegasnya. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus memperhatikan keadilan digital agar transformasi teknologi benar-benar inklusif.
Dalam konteks kurikulum, Prof. Mu’ti mengajak para pendidik untuk memperkuat pendekatan berbasis proyek (project-based learning) dan kolaborasi lintas disiplin. Pendekatan ini tidak hanya membangun kemampuan akademik, tetapi juga melatih siswa untuk menghadapi masalah nyata dengan solusi kreatif. Guru harus menjadi fasilitator pembelajaran yang menantang siswa untuk berpikir, bereksperimen, dan menemukan makna dari proses belajar itu sendiri. Di sinilah integrasi STEM dan pembelajaran berbasis masalah menemukan relevansinya.
Selain itu, Prof. Mu’ti menekankan pentingnya human literacy di tengah kemajuan machine literacy. Dalam dunia yang semakin dikuasai algoritma, manusia tetap perlu memelihara nilai moral, empati sosial, dan kesadaran spiritual. Pendidikan harus menyiapkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap sesama dan tanggung jawab sosial. Tanpa dimensi ini, pendidikan akan kehilangan arah dan hanya menghasilkan individu-individu yang kompeten secara teknis, namun miskin rasa kemanusiaan.
Kecerdasan buatan dan STEM seharusnya tidak membuat manusia terasing dari kemanusiaannya sendiri. Justru, teknologi perlu diarahkan untuk memperluas potensi manusia, bukan membatasinya. Dalam pandangan Prof. Mu’ti, masa depan pendidikan Indonesia harus berakar pada nilai-nilai luhur bangsa sambil membuka diri terhadap inovasi global. Keseimbangan antara technological literacy dan human values inilah yang akan menentukan apakah pendidikan kita akan menjadi alat pembebasan atau sekadar pelatihan mekanis.
Pendidikan di era digital harus menjadi ruang kolaboratif antara manusia dan mesin, antara guru dan teknologi, antara tradisi dan inovasi. Pesan Prof. Abdul Mu’ti mengingatkan kita bahwa di balik algoritma, kurikulum, dan perangkat digital, yang paling menentukan tetaplah manusia. Pendidikan bukan hanya tentang mencetak pekerja masa depan, tetapi membangun peradaban. Maka, dalam setiap kebijakan dan inovasi pendidikan, pusatnya harus tetap: manusia yang berilmu, berakhlak, dan berdaya.
Source: Youtube Kompas.com