Masa Depan Seni di Era Metaverse
Dalam sebuah sesi inspiratif, Jin Ha Lee, co-founder dan Chief Product Officer Spatial.io, membagikan pandangannya tentang bagaimana metaverse membentuk kembali dunia seni dan budaya digital. Ia membuka pembicaraan dengan refleksi sejarah, bahwa sejak ribuan tahun lalu manusia telah menggunakan seni dan pertunjukan seperti opera sebagai cara untuk bercerita, memahami diri, dan membangun komunitas. Kini, menurutnya, kita sedang mengalami transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi dan mengekspresikan kreativitas melalui teknologi imersif.
Jin menjelaskan bahwa internet membawa lompatan besar dalam komunikasi global, tetapi belum mampu meniru sensasi berbagi ruang dan kehadiran nyata. Inilah yang kemudian melahirkan konsep metaverse, ruang virtual bersama yang dapat diakses siapa pun, di mana pun. Spatial.io, kata Jin, melihat metaverse bukan sekadar permainan atau replika dunia fisik, melainkan evolusi alami dari internet menuju era berbagi pengalaman, bukan sekadar berbagi informasi.
Ia kemudian menyoroti bagaimana Spatial awalnya dikembangkan sebagai platform kolaborasi VR, namun ketika pandemi melanda, banyak seniman dan kurator yang justru memanfaatkannya untuk menyelenggarakan pameran virtual. Tanpa batas jarak dan waktu, seniman dapat menghadirkan karyanya kepada audiens global, bahkan bekerja sama dengan lembaga besar seperti Christie’s Auction House untuk mengadakan lelang NFT pertama di metaverse.
Lebih jauh, Jin menunjukkan bahwa metaverse menghapus batas dimensi. Seniman kini dapat menciptakan dunia baru yang tidak mungkin ada secara fisik, bereksperimen dengan geometri, gravitasi, dan bahkan kecerdasan buatan untuk menciptakan pengalaman multisensorial. Contohnya adalah pameran yang merekonstruksi karya Nam June Paik — pelopor seni media abad ke-20 — ke dalam bentuk virtual yang interaktif, memungkinkan karya tersebut “hidup selamanya” di dunia digital meskipun aslinya sedang dalam proses restorasi.
Namun, kekuatan sejati metaverse, menurut Jin, terletak pada kemampuannya untuk membangun komunitas yang autentik. Tidak seperti media sosial yang didorong oleh “likes” dan “followers”, metaverse menciptakan pengalaman bersama yang membangun hubungan emosional antara seniman dan audiensnya. Ia mencontohkan acara musik DJ “Dope Stilo” di Spatial yang menggabungkan konser fisik dan virtual, sehingga siapa pun bisa hadir dan merasakan atmosfer yang sama, sekaligus memperluas jangkauan komunitas.
Jin menutup dengan kisah mengharukan tentang anak-anak yang membayangkan kota masa depan di bawah laut akibat perubahan iklim, yang kemudian diwujudkan menjadi ruang virtual tempat mereka dapat bermain dan belajar bersama. Ia menegaskan bahwa metaverse memberi bentuk baru bagi imajinasi manusia, memungkinkan ide kecil tumbuh menjadi pengalaman kolektif yang nyata. “Masa depan internet,” ujarnya, “akan lebih artistik dari hari ini.”
Source: Youtube Spatial