Memahami Deep Learning, Belajar yang Menyentuh Makna
Dalam suasana yang hangat dan reflektif, Itje Chodidjah—pendidik dan pemerhati pembelajaran—berbagi pandangannya tentang konsep deep learning. Ia menjelaskan bahwa deep learning bukan sekadar istilah baru dalam dunia pendidikan, melainkan pendekatan yang mengajak guru dan siswa untuk menembus lapisan terdalam dari proses belajar. Menurutnya, belajar yang mendalam bukan hanya tentang menguasai materi, tetapi tentang memahami, merefleksikan, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata.
Itje memulai penjelasannya dengan membedakan antara belajar dangkal dan belajar mendalam. Belajar dangkal, katanya, sering kali hanya fokus pada hafalan dan pencapaian nilai. Sebaliknya, deep learning mengajak peserta didik berpikir kritis, memaknai pengalaman, dan membangun kesadaran diri. Dalam konteks ini, guru berperan bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai fasilitator yang menuntun siswa menemukan makna di balik pengetahuan.
Lebih jauh, Itje menekankan bahwa deep learning juga erat kaitannya dengan refleksi diri. Ia mencontohkan bagaimana siswa dapat belajar dari kegagalan, bertanya “mengapa” bukan hanya “bagaimana”, dan mengaitkan pelajaran dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pembelajaran mendalam terjadi ketika seseorang tidak hanya tahu sesuatu, tetapi juga memahami relevansinya dalam kehidupan. Dengan cara ini, pendidikan menjadi proses yang membentuk karakter, bukan hanya kecerdasan kognitif.
Dalam wawancara tersebut, Itje juga menyinggung peran penting guru di era sekarang. Menurutnya, guru harus berani keluar dari zona nyaman metode lama. Mereka perlu menciptakan suasana kelas yang memberi ruang bagi eksplorasi, dialog, dan keterlibatan emosional siswa. Ia percaya, ketika guru belajar untuk memahami dirinya sendiri—termasuk cara berpikir dan bereaksinya—maka ia akan lebih mampu menuntun siswa menuju pemahaman yang autentik.
Menariknya, Itje juga mengaitkan deep learning dengan konteks budaya belajar di Indonesia. Ia menyadari bahwa sistem pendidikan kita masih sangat berorientasi pada hasil dan ujian. Namun, ia optimis bahwa perubahan bisa dimulai dari kesadaran individu guru. Dengan mengubah cara pandang terhadap makna belajar, guru dapat menjadi agen transformasi yang membawa semangat pembelajaran mendalam ke ruang-ruang kelas di seluruh negeri.
Bagi Itje, deep learning bukan hanya teori pedagogis, melainkan perjalanan spiritual seorang pembelajar. Ia menggambarkannya sebagai proses memahami diri dan dunia secara utuh—sebuah pengalaman yang tidak bisa dicapai hanya melalui buku teks. Dalam setiap proses belajar yang autentik, kata Itje, selalu ada ruang untuk kejujuran, refleksi, dan pertumbuhan. Itulah inti sejati dari belajar yang mendalam: perjalanan yang mengubah bukan hanya pikiran, tetapi juga hati.
Source: Youtube International Test Center