Mendesain Rasa Memiliki
Dalam Design for Belonging: How to Build Inclusion and Collaboration in Your Communities, Susie Wise menghadirkan sebuah panduan penuh kehangatan yang menggabungkan desain, empati, dan perubahan sosial. Buku ini lahir dari keyakinan bahwa rasa memiliki (belonging) bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan, tetapi dapat dirancang dengan hati-hati melalui pilihan, struktur, dan pengalaman yang kita bangun untuk orang-orang di sekitar kita. Wise, yang berpengalaman di dunia desain berpikir dan pendidikan, menunjukkan bagaimana komunitas—baik sekolah, organisasi, maupun lingkungan sosial—dapat menciptakan ruang yang membuat setiap orang merasa terlihat, dihargai, dan terhubung.
Dengan gaya naratif yang lembut namun kuat, Wise menjelaskan bahwa “belonging” adalah kebutuhan manusia yang mendasar. Banyak komunitas gagal menghadirkannya bukan karena kurang niat baik, tetapi karena belum memahami bagaimana menciptakan kondisi yang membuat setiap orang merasa diterima. Melalui konsep-konsep desain, ia mengajak pembaca untuk melihat rasa memiliki sebagai sesuatu yang dapat dihadirkan melalui proses kreatif: merancang pengalaman, interaksi, ruang, dan simbol-simbol yang memberi isyarat bahwa setiap individu itu penting.
Buku ini memperkenalkan Belonging Design Tools, seperangkat pendekatan visual dan reflektif yang membantu pembaca mengidentifikasi hambatan terhadap inklusi sekaligus membuka peluang untuk memperbaikinya. Wise menekankan bahwa perubahan tidak harus besar atau dramatis. Terkadang, isyarat sederhana—cara menyapa, cara mengatur ruang duduk, atau bentuk kegiatan kolaboratif—dapat secara signifikan mengubah dinamika sebuah komunitas. Di sinilah kekuatan buku ini: ia membuat isu inklusi yang kompleks menjadi dapat dikelola dan dipraktikkan oleh siapa pun.
Dalam berbagai contoh nyata, Wise memperlihatkan bagaimana sekolah, organisasi sosial, dan kelompok kerja berhasil menciptakan budaya positif melalui desain yang berpusat pada manusia. Ia menggambarkan momen-momen ketika seseorang yang sebelumnya merasa berada di pinggiran akhirnya menemukan tempatnya, merasa diakui, dan dapat berkontribusi. Contoh-contoh ini menjadi bukti bahwa belonging bukan hanya teori, tetapi energi yang dapat mengubah cara kita belajar, bekerja, dan hidup bersama.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penekanan pada kolaborasi. Wise mengingatkan bahwa rasa memiliki tumbuh ketika orang tidak hanya diterima, tetapi juga dilibatkan dalam proses penciptaan komunitas itu sendiri. Dengan kata lain, belonging dan collaboration berjalan beriringan—dua pilar penting yang membentuk fondasi komunitas yang sehat dan berdaya. Buku ini mempertajam kesadaran pembaca bahwa setiap keputusan desain, sekecil apa pun, berdampak pada siapa yang merasa termasuk dan siapa yang tidak.
Design for Belonging juga mengajak pembaca untuk memeriksa diri: bagaimana kita, baik sebagai pendidik, pemimpin organisasi, maupun anggota komunitas, mungkin tanpa sadar menciptakan ruang yang eksklusif? Wise menulis dengan empati, tanpa menyalahkan, tetapi terus mendorong refleksi kritis agar perubahan dapat dimulai dari dalam diri dan diteruskan melalui tindakan nyata.
Gaya penulisan Wise yang visual dan praktis membuat bukunya mudah diikuti, bahkan oleh pembaca yang tidak familiar dengan desain berpikir. Ia merancang setiap bab seperti perjalanan pendek, dipenuhi ilustrasi, peta konsep, dan pertanyaan reflektif yang membantu pembaca membayangkan langkah-langkah konkret untuk menciptakan komunitas yang lebih manusiawi. Buku ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk digunakan—sebagai alat, inspirasi, dan pemantik dialog.
Design for Belonging adalah undangan untuk membangun dunia di mana setiap suara didengar dan setiap orang merasa berada di tempat yang tepat. Wise memberi kita bahasa, alat, dan keberanian untuk merancang cara hidup bersama yang lebih inklusif. Buku ini sangat relevan bagi pendidik, pemimpin komunitas, fasilitator, desainer, maupun siapa saja yang percaya bahwa dunia yang kuat dimulai dari komunitas yang hangat dan penuh empati.