Menemukan Makna Merdeka Belajar
Pendidikan sejatinya tidak berhenti di ruang kelas. Hal inilah yang menjadi inti pembicaraan dalam program Kampus Merdeka bersama Marissa Anita, aktris dan jurnalis yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan pendidikan. Dalam wawancara tersebut, Marissa menegaskan bahwa dunia luar kampus justru menjadi ruang belajar yang sesungguhnya, tempat mahasiswa bisa mengasah kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan memahami realitas masyarakat secara langsung.
Konsep Merdeka Belajar yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk menjelajah dunia nyata. Melalui program seperti Magang dan Studi Independen Bersertifikat, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga kesempatan untuk menguji diri dalam konteks profesional. Marissa menilai, pengalaman di luar kampus memberikan nilai tambah yang tidak bisa diperoleh hanya dari kuliah tatap muka. “Belajar itu tentang memahami hidup,” ujarnya dalam semangat yang membara.
Marissa berbagi kisah reflektif tentang perjalanan hidup dan kariernya yang berliku. Lulusan Universitas Indonesia dan University of Sydney ini mengaku bahwa banyak pelajaran penting justru datang dari pengalaman nyata di lapangan, bukan dari buku teks. Ia menyebut bahwa setiap tantangan yang dihadapi selama bekerja di dunia jurnalistik dan perfilman telah membentuknya menjadi pembelajar yang tangguh dan terbuka. Dalam pandangannya, Merdeka Belajar berarti memberi ruang bagi mahasiswa untuk menemukan dirinya melalui pengalaman.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya learning agility atau kelincahan belajar di era perubahan cepat. Dunia kerja kini menuntut individu yang adaptif, kreatif, dan memiliki empati sosial tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa harus berani melangkah keluar dari zona nyaman. “Jangan takut gagal, karena dari kegagalan itulah kita belajar memahami diri dan orang lain,” kata Marissa menegaskan. Pesan ini sejalan dengan semangat Kampus Merdeka yang mendorong mahasiswa bereksperimen tanpa takut salah.
Selain keterampilan teknis, pembelajaran di luar kampus juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Marissa menekankan pentingnya kepekaan sosial dan kemampuan berempati terhadap lingkungan sekitar. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya memikirkan karier pribadi, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman mereka dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas. Pendidikan yang sejati, menurutnya, adalah proses menjadi manusia yang sadar, peduli, dan bertanggung jawab.
Dalam diskusi tersebut, Rani Ramadhani sebagai host menyoroti bagaimana banyak mahasiswa kini menghadapi kebingungan menentukan arah hidup. Menanggapi hal itu, Marissa menyarankan agar setiap mahasiswa berani mengeksplorasi berbagai bidang sebelum menetapkan pilihan karier. Ia percaya bahwa pengalaman lintas disiplin justru memperkaya wawasan dan memperluas perspektif. “Tidak apa-apa kalau belum tahu mau jadi apa. Yang penting terus belajar dan bergerak,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Marissa juga menyoroti peran penting dosen dan mentor dalam mendampingi mahasiswa selama proses belajar di luar kampus. Menurutnya, pendampingan yang baik bukan berarti memberi jawaban, melainkan memfasilitasi mahasiswa untuk menemukan solusi sendiri. Pendekatan ini membantu menumbuhkan kemandirian berpikir dan rasa percaya diri. Ia menilai, relasi antara mahasiswa dan dosen sebaiknya bersifat dialogis dan inspiratif, bukan hierarkis semata.
Program Kampus Merdeka sendiri telah memberikan wadah konkret bagi transformasi pembelajaran di Indonesia. Mahasiswa kini bisa belajar dari industri, komunitas, lembaga sosial, maupun start-up digital. Dalam konteks ini, universitas berperan sebagai pusat koordinasi yang memastikan pengalaman belajar tersebut tetap memiliki arah akademik yang jelas. Marissa melihat inisiatif ini sebagai langkah progresif untuk menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.
Bagi Marissa, belajar di luar kampus bukan berarti meninggalkan nilai-nilai akademik, melainkan memperluas cakrawalanya. Ia menegaskan bahwa dunia kerja dan dunia pendidikan tidak boleh dipisahkan. Justru keduanya harus saling berkolaborasi untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas. Ia mengajak mahasiswa untuk memaknai kemerdekaan belajar sebagai kesempatan untuk tumbuh menjadi individu yang utuh: berpikir kritis, berempati, dan berkontribusi.
Wawancara tersebut ditutup dengan pesan reflektif dari Marissa Anita. Ia mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar soal gelar atau sertifikat, melainkan tentang bagaimana seseorang terus berkembang sepanjang hayat. Dalam semangat Merdeka Belajar, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta perubahan. Dunia luar kampus adalah ruang belajar yang luas, dan setiap langkah di dalamnya adalah bagian dari perjalanan untuk memahami makna kehidupan.
SOurce: Youtube Kampus Merdeka