Menggali Kebahagiaan dalam Pembelajaran
Dalam Unearthing Joy: A Guide to Culturally and Historically Responsive Curriculum and Instruction, Dr. Gholdy Muhammad mengajak pembaca memasuki sebuah pendekatan pendidikan yang tidak sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kegembiraan, identitas, dan kebermaknaan dalam proses belajar. Buku ini hadir sebagai kelanjutan dari gagasan Culturally and Historically Responsive Education (CHRE) yang dikembangkan Muhammad, dan memperluas fokusnya dari sekadar keberhasilan akademik menuju pembelajaran yang membangkitkan rasa bahagia dan keterhubungan manusia.
Sejak halaman pertama, Muhammad menekankan bahwa pendidikan seharusnya membuat peserta didik merasa dilihat, dihargai, dan diakui. Ia menunjukkan bahwa banyak kurikulum tradisional cenderung mengabaikan latar budaya dan sejarah siswa, sehingga menempatkan mereka dalam ruang belajar yang kering secara emosional. Unearthing Joy hadir untuk menunjukkan bagaimana guru dapat menyusun pembelajaran yang menghidupkan kembali energi positif di kelas melalui hubungan budaya, kreativitas, dan rasa ingin tahu.
Dalam bukunya, Muhammad menyoroti lima dimensi pembelajaran yang menjadi inti pendekatannya: identitas, keterampilan, intelektualitas, kritis, dan kegembiraan. Dimensi terakhir—joy—menjadi sorotan khusus, karena menurutnya, kegembiraan bukanlah sesuatu yang sekadar ditempelkan dalam pembelajaran, tetapi merupakan hasil dari pengalaman belajar yang penuh makna. Kegembiraan adalah dampak ketika siswa berkesempatan untuk memahami diri, menggali sejarahnya, dan menyadari bahwa mereka memiliki tempat di dunia akademik.
Buku ini dipenuhi dengan contoh, strategi, dan ilustrasi nyata mengenai bagaimana guru dapat membangun kurikulum yang tidak hanya responsif secara budaya tetapi juga mampu menyentuh sisi emosional siswa. Muhammad memberikan model kegiatan kelas yang memungkinkan siswa mengekspresikan diri melalui seni, narasi, musik, serta eksplorasi sejarah komunitas mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang responsif budaya tidak hanya tentang memasukkan konten yang relevan, tetapi tentang menciptakan ruang aman bagi semua suara untuk terdengar.
Dalam berbagai bab, Muhammad juga mengingatkan bahwa kegembiraan belajar tidak bisa dilepaskan dari keadilan sosial dan pemberdayaan. Ia menegaskan bahwa kelas harus menjadi ruang di mana siswa dapat mengkritisi dunia, mengidentifikasi ketidakadilan, dan membayangkan perubahan. Melalui cara ini, pembelajaran menjadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan; ia menjadi sarana untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan manusiawi.
Muhammad menggabungkan refleksi personal, teori pendidikan, dan praktik mengajar secara harmonis, menghasilkan buku yang terasa inspiratif sekaligus aplikatif. Ia menghadirkan cerita-cerita yang mengharukan tentang bagaimana siswa menemukan kembali rasa percaya diri dan kebahagiaan ketika kurikulum benar-benar mencerminkan identitas mereka. Narasi-narasi ini memperkuat pesan bahwa kegembiraan belajar bukanlah konsep abstrak, tetapi pengalaman nyata yang dapat dibangun melalui desain pembelajaran yang tepat.
Selain menawarkan strategi kurikulum, Unearthing Joy memberikan dorongan moral kepada para pendidik: bahwa pekerjaan mereka bukan hanya mengajarkan materi, tetapi menumbuhkan manusia. Muhammad menyampaikan bahwa ketika guru mampu menghadirkan budaya belajar yang penuh penghargaan dan relevansi, mereka tidak hanya meningkatkan hasil akademik, tetapi juga membantu siswa tumbuh sebagai individu yang utuh.
Membaca Unearthing Joy membuat pembaca merenungkan kembali pertanyaan mendasar: untuk siapa pendidikan itu dibuat, dan apa tujuannya? Muhammad menjawabnya dengan tegas—pendidikan harus memberi ruang bagi siswa untuk bersinar melalui identitasnya, mempertajam kapasitas intelektual, dan menikmati proses belajar. Buku ini mengingatkan kita bahwa kegembiraan bukan sekadar bonus dalam pembelajaran; ia adalah kebutuhan.
Dengan pendekatan yang hangat, visioner, dan sangat relevan dengan konteks pendidikan modern, buku ini menjadi sumber inspirasi bagi guru, pemimpin sekolah, peneliti, dan siapa pun yang ingin menciptakan kelas yang lebih manusiawi dan bermakna. Unearthing Joy adalah seruan untuk kembali melihat pendidikan sebagai perjalanan yang menumbuhkan harapan dan kebahagiaan—bukan hanya angka dan hasil.