Mengintip Cara Otak Membaca
Membaca tampak seperti aktivitas sederhana—menatap huruf di halaman dan memahami maknanya. Namun, dalam bukunya The Reading Mind: A Cognitive Approach to Understanding How the Mind Reads, psikolog kognitif Daniel T. Willingham mengungkap bahwa membaca sejatinya adalah proses mental yang luar biasa kompleks. Buku ini menjelaskan bagaimana otak manusia menerjemahkan simbol-simbol hitam di kertas menjadi gambaran hidup dalam pikiran pembaca.
Dalam bab awal, Willingham menelusuri asal mula tulisan yang bermula lebih dari 5.000 tahun lalu. Dari simbol piktograf di Mesopotamia hingga huruf alfabet modern, evolusi tulisan menunjukkan betapa kuatnya dorongan manusia untuk merekam ide dan berbagi pengetahuan. Menurut Willingham, membaca bukan kemampuan alami seperti berbicara; ia merupakan hasil dari pengajaran, latihan, dan adaptasi budaya yang panjang.
Proses membaca dimulai saat otak mengenali bentuk huruf dan menghubungkannya dengan bunyi. Anak-anak awalnya mempelajari hubungan antara huruf dan suara, sebelum mampu menggabungkannya menjadi kata yang bermakna. Di sinilah guru berperan penting: mengajarkan fonik, melatih kesadaran bunyi, serta menumbuhkan pemahaman makna kata. “Membaca tidak terjadi secara ajaib; dibutuhkan pengajaran yang terarah,” tulis Willingham.
Dalam bab kedua, penulis menjelaskan mengapa beberapa huruf seperti b dan p sering membingungkan anak-anak. Ia mengaitkan hal ini dengan cara otak membangun jalur visual untuk mengenali bentuk huruf. Seiring latihan, otak belajar membedakan pola kecil dan mengenali huruf dalam berbagai font. Pembaca ahli bahkan mampu mengenali kata bukan lagi dari huruf per huruf, melainkan sebagai bentuk utuh—sebuah proses yang disebut orthographic processing.
Lebih jauh, Willingham membahas bagaimana setiap kata dalam otak kita tersambung dalam “jaring makna”. Ketika membaca kata spill, misalnya, otak langsung mengaitkannya dengan konsep tumpahan, kekacauan, atau bahkan bencana—tergantung konteks kalimatnya. Semakin luas jaringan makna yang dimiliki seseorang, semakin mudah ia memahami teks baru. Karena itu, memperkaya kosakata menjadi kunci penting bagi pemahaman membaca.
Pada bab “Making Sense of Stories”, Willingham menjelaskan bagaimana otak menyusun kata menjadi cerita yang utuh. Pembaca tidak hanya mengingat kalimat, tetapi juga membangun situation model—peta mental yang berisi tokoh, tempat, dan peristiwa. Proses ini membuat kita dapat mengikuti alur novel dari awal hingga akhir tanpa harus mengingat setiap kata. Inilah sebabnya membaca terasa seperti menonton film di dalam pikiran.
Buku ini juga mengungkap bagaimana emosi dan “suara batin” memengaruhi pemahaman. Saat membaca, otak membangkitkan suara dalam kepala—meniru intonasi, ritme, dan perasaan yang memberi warna pada teks. Menurut Willingham, kemampuan ini menjadikan membaca bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan pengalaman emosional yang mendalam.
Pada bagian akhir, The Reading Mind menyoroti pentingnya menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca seumur hidup. Willingham menyebut bahwa pembaca yang baik bukan hanya cepat dan terampil, tetapi juga memiliki sikap positif terhadap buku. Rasa senang, motivasi, dan kepercayaan diri menjadi faktor utama yang mendorong seseorang untuk terus membaca, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan literasi.
Penulis juga menekankan bahwa orang tua dan guru memiliki peran besar dalam membentuk pembaca sejati. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh buku dan melihat orang dewasa menikmati bacaan akan lebih mudah mengembangkan cinta terhadap membaca. Aktivitas sederhana seperti membaca bersama, berdiskusi tentang cerita, atau memberi kebebasan memilih buku dapat memicu kebiasaan membaca jangka panjang.
Melalui buku ini, Willingham berhasil menyatukan ilmu kognitif dan praktik pendidikan secara menarik dan mudah dipahami. Ia menegaskan bahwa membaca adalah kombinasi dari seni dan sains—seni dalam merasakan makna, dan sains dalam memahami bagaimana otak bekerja. The Reading Mind menjadi bacaan wajib bagi pendidik, orang tua, dan siapa pun yang ingin memahami keajaiban di balik aktivitas membaca yang selama ini kita anggap biasa.