Menguji Kesiapan Dosen dan Mahasiswa dalam Sistem Belajar Daring dan Luring
Transformasi pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia memasuki babak baru pascapandemi. Sistem belajar daring dan luring kini tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Perguruan tinggi dituntut untuk mengintegrasikan keduanya secara efektif agar mampu menjawab tantangan era digital. Namun, pertanyaannya: sejauh mana dosen dan mahasiswa benar-benar siap menghadapi sistem pembelajaran ganda ini?
Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek, 2024) menunjukkan bahwa 76% perguruan tinggi di Indonesia telah menerapkan model hybrid learning dalam kurikulumnya. Meski angka ini menunjukkan kemajuan, kesiapan sumber daya manusia—terutama dosen dan mahasiswa—masih menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi. Banyak kampus menghadapi kesenjangan dalam hal infrastruktur digital, literasi teknologi, dan kompetensi pedagogis yang sesuai dengan konteks pembelajaran abad ke-21.
Dari sisi dosen, kesiapan tidak hanya diukur dari kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mendesain pengalaman belajar yang bermakna. Berdasarkan survei Pusat Data dan Informasi Pendidikan Tinggi (Pusdatin Dikti, 2024), sekitar 42% dosen masih merasa kesulitan mengelola interaksi dan penilaian dalam pembelajaran daring. Tantangan terbesar mereka adalah menjaga keterlibatan mahasiswa (student engagement) dan memastikan pemahaman materi di ruang virtual. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas pedagogi digital dosen melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.
Sementara itu, kesiapan mahasiswa juga tidak kalah penting. Survei Katadata Insight Center (2023) terhadap 1.200 mahasiswa di Indonesia menunjukkan bahwa 61% merasa sistem daring memberi fleksibilitas belajar, tetapi 47% mengaku kesulitan menjaga fokus dan motivasi tanpa pengawasan langsung. Di sisi lain, 55% mahasiswa lebih menyukai pembelajaran luring karena lebih interaktif dan mudah berkomunikasi dengan dosen serta teman. Data ini mengindikasikan bahwa kesiapan mental dan kemampuan manajemen diri mahasiswa masih perlu diperkuat dalam konteks pembelajaran daring.
Faktor infrastruktur juga berperan besar. Akses internet yang belum merata dan perangkat digital yang tidak memadai masih menjadi kendala utama, terutama di perguruan tinggi daerah. Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2024), penetrasi internet di Indonesia mencapai 79,5%, tetapi kualitas akses di luar Pulau Jawa masih jauh tertinggal. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan dalam pengalaman belajar daring antara mahasiswa di perkotaan dan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Dari perspektif kelembagaan, banyak kampus mulai menyiapkan sistem pendukung yang lebih komprehensif. Misalnya, penguatan Learning Management System (LMS), pelatihan rutin bagi dosen, dan penyediaan pusat bantuan teknologi bagi mahasiswa. Beberapa universitas juga telah mengembangkan predictive learning analytics untuk memantau keterlibatan dan kinerja mahasiswa secara real time. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan kualitas pembelajaran di tengah pergeseran menuju sistem hybrid.
Namun, kesiapan teknologi dan sistem tidak akan berarti tanpa kesiapan budaya akademik. Baik dosen maupun mahasiswa perlu mengembangkan sikap adaptif, disiplin, dan kolaboratif. Dosen harus siap menjadi fasilitator pembelajaran yang fleksibel, sementara mahasiswa dituntut menjadi pembelajar aktif yang mampu mengelola waktu dan tanggung jawabnya sendiri. Perubahan paradigma ini membutuhkan waktu, namun menjadi kunci keberhasilan pendidikan tinggi berbasis teknologi.
Pada akhirnya, menguji kesiapan dosen dan mahasiswa bukan sekadar menilai kemampuan mereka beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga mengukur transformasi mindset dalam proses belajar-mengajar. Sinergi antara kemampuan pedagogis dosen, motivasi belajar mahasiswa, dan dukungan kelembagaan akan menentukan arah masa depan pendidikan tinggi Indonesia. Jika semua elemen mampu berkolaborasi dan beradaptasi, sistem belajar daring dan luring bukan hanya sekadar alternatif, melainkan model utama pembelajaran yang relevan di era digital.