Menumbuhkan Empati di Era Digital
Kemajuan teknologi pendidikan telah membawa perubahan besar dalam cara kita belajar dan mengajar. Ruang kelas kini tidak lagi terbatas oleh tembok, melainkan terbentang luas melalui jaringan internet dan perangkat digital. Namun, di balik segala kecanggihannya, muncul tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan? Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Goal 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Goal 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat), penting untuk menegaskan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan penumbuhan empati digital.
Teknologi pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keterampilan kognitif, tetapi juga pada pembangunan karakter dan nilai-nilai sosial. Aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom, Kahoot!, atau Flipgrid, misalnya, bukan hanya dapat digunakan untuk mengajar materi akademik, tetapi juga untuk menumbuhkan budaya kolaborasi, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui fitur diskusi, refleksi, atau kerja kelompok virtual, peserta didik belajar memahami perspektif orang lain dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, teknologi menjadi sarana menanamkan nilai kemanusiaan, bukan sekadar alat penyampai konten.
Di lingkungan pendidikan, penerapan tanggung jawab sosial digital dapat dimulai dari hal sederhana, seperti proyek pembelajaran berbasis komunitas (community-based learning). Misalnya, mahasiswa teknologi pendidikan dapat menggunakan media digital untuk mengembangkan konten literasi bagi anak-anak di daerah terpencil, atau membuat kampanye kesadaran sosial melalui media interaktif. Contoh nyata lainnya adalah program Google for Education’s Global Citizenship Projects, yang mengajak siswa berkolaborasi lintas negara untuk mencari solusi terhadap isu sosial dan lingkungan. Aktivitas semacam ini membantu siswa memahami bahwa teknologi bukan hanya milik individu, tetapi milik dunia yang harus digunakan untuk kebaikan bersama.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi juga membawa risiko dehumanisasi — ketika interaksi manusia digantikan oleh layar dan algoritma. Banyak siswa merasa terisolasi dalam pembelajaran daring, atau kehilangan kedekatan emosional dengan guru dan teman sekelas. Di sinilah pentingnya pendidik berperan aktif sebagai fasilitator empati digital, bukan hanya pengajar materi. Guru perlu merancang kegiatan belajar yang menumbuhkan interaksi sosial dan refleksi emosional, misalnya melalui sesi sharing circle online, mentoring digital, atau proyek sosial virtual yang menekankan nilai solidaritas dan kepedulian.
Selain itu, lembaga pendidikan perlu membangun budaya etika digital (digital ethics) sebagai bagian dari kurikulum. Etika digital mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab terhadap penggunaan data, menghargai privasi, serta berperilaku santun di dunia maya. Nilai-nilai ini sangat penting untuk mendukung SDGs 16, karena dunia digital yang beretika adalah dasar bagi masyarakat yang damai dan inklusif. Implementasi nyata bisa dilakukan melalui program “Digital Citizenship Education” yang kini telah diadopsi di beberapa sekolah internasional dan juga mulai diterapkan di Indonesia melalui platform seperti Ruangguru dan Kelas Pintar.
Penerapan tanggung jawab sosial dalam teknologi pendidikan juga dapat memperkuat kesadaran global (global awareness) di kalangan peserta didik. Melalui kolaborasi internasional berbasis platform digital seperti eTwinning atau Coursera for Campus, mahasiswa dapat belajar langsung dari konteks sosial dan budaya lain. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan empati lintas bangsa. Pendidikan semacam ini selaras dengan semangat SDGs untuk memperkuat kemitraan global dan memperjuangkan dunia yang lebih adil dan damai.
Namun, agar nilai-nilai ini benar-benar hidup dalam praktik pendidikan, diperlukan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang berorientasi pada humanisasi teknologi. Pemerintah dan institusi pendidikan harus memastikan bahwa transformasi digital tidak semata berfokus pada perangkat dan jaringan, tetapi juga pada pembinaan karakter digital siswa dan tenaga pendidik. Pelatihan guru tentang pedagogi empatik, pengembangan kurikulum etika digital, serta kebijakan yang menekankan tanggung jawab sosial teknologi perlu menjadi prioritas nasional.
Teknologi pendidikan harus menjadi alat untuk memanusiakan, bukan menggantikan manusia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial menjadi fondasi penting agar pendidikan tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Dunia memang sedang berubah menuju era digital, tetapi arah perubahan itu harus kita kendalikan bersama — agar teknologi tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghangatkan hati dan memperkuat kemanusiaan.