Pendidikan dan Karakter Bangsa di Tengah Tantangan Sosial
Pendidikan sejatinya bertujuan untuk menggali dan menumbuhkan bakat yang ada dalam diri setiap manusia. Namun, proses ini tidak dapat ditempuh secara instan. Menurut pandangan pendidikan klasik, pembelajaran memiliki tingkatan yang harus dilalui secara bertahap — dari lingkungan keluarga, pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Hal ini bukan semata persoalan kurikulum, melainkan berkaitan dengan kesiapan psikologis peserta didik dalam menerima dan mengembangkan pengetahuan.
Dalam perjalanannya, pendidikan juga selalu berhubungan erat dengan perubahan sosial. Sejak masa penjajahan hingga era kemerdekaan, transformasi sosial menjadi landasan terbukanya kesempatan belajar bagi seluruh warga negara. Pendidikan yang dahulu terbatas hanya bagi kaum tertentu, kini menjadi hak semua orang. Meski demikian, permasalahan pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Tantangan baru muncul seiring bergesernya nilai dan semangat para pendidik serta peserta didik itu sendiri.
Salah satu kritik yang mengemuka ialah praktik akselerasi yang dinilai mengabaikan proses pembentukan karakter. Kecerdasan kognitif sering kali dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan siswa, padahal pendidikan seharusnya juga mengasah kecerdasan emosional dan spiritual. Proses belajar bukan hanya tentang menambah ilmu, melainkan juga tentang membangun karakter, kedewasaan, dan tanggung jawab moral yang tercermin di setiap jenjang pendidikan.
Dalam perspektif filsafat humanistik yang dikemukakan tokoh seperti Romo Driyarkara, manusia tidak hanya dikaruniai akal budi, tetapi juga jiwa dan rohani. Oleh sebab itu, pendidikan harus diarahkan tidak hanya untuk melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga tercerahkan. Kecerdasan tanpa hati nurani dapat melahirkan perilaku koruptif dan egoistik. Sementara kecerdasan yang berpadu dengan nurani akan menumbuhkan manusia yang beretika, berempati, dan memiliki kesadaran sosial.
Sejarah bangsa menunjukkan bahwa pemimpin besar Indonesia lahir dari pribadi-pribadi yang tercerahkan. Soekarno dan Hatta menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan rakyat. Kesadaran seperti inilah yang menjadi inti dari pendidikan sejati — melahirkan generasi yang bukan hanya berilmu, tetapi juga memiliki komitmen moral terhadap bangsanya.
Namun realitas di lapangan menunjukkan penurunan kualitas pengajaran dan semangat guru sebagai pendidik. Banyak guru kini memandang profesi tersebut sebatas pekerjaan, bukan panggilan jiwa. Ketika mengajar tidak lagi dilakukan dengan dedikasi, maka pendidikan kehilangan rohnya. Akibatnya, muncul fenomena siswa yang naik jenjang tanpa kemampuan dasar memadai, bahkan ada yang belum bisa membaca di tingkat menengah. Hal ini mencerminkan lemahnya tanggung jawab moral dalam sistem pendidikan.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya menjembatani kesenjangan melalui berbagai program, seperti sekolah rakyat dan sekolah Garuda yang diinisiasi pada pemerintahan saat ini. Program tersebut diharapkan dapat membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan melahirkan talenta muda yang unggul. Namun, keberhasilan program semacam itu tetap bergantung pada kualitas para pengajarnya. Jika guru yang mengajar hanya mengejar gaji tanpa memahami esensi menjadi pendidik, maka sistem sebaik apa pun akan gagal.
Persoalan pendidikan juga tidak hanya terjadi di kalangan bawah. Di lapisan masyarakat atas, kecerdasan sering kali dijadikan alat untuk mengejar keuntungan ekonomi semata. Dalam konteks ini, pendidikan kehilangan arah moralnya. Einstein pernah menyesali bahwa hasil penelitiannya digunakan untuk menciptakan bom atom. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kecerdasan yang tidak disertai kebijaksanaan dapat menghancurkan nilai kemanusiaan.
Lebih jauh, kondisi politik dan sosial juga mencerminkan krisis karakter bangsa. Fenomena korupsi di kalangan pejabat, perilaku hedonistik sebagian wakil rakyat, hingga lemahnya empati terhadap penderitaan masyarakat miskin menjadi bukti bahwa pendidikan moral dan karakter belum tertanam kuat. Padahal, mereka yang diberi mandat kekuasaan seharusnya memiliki kesadaran untuk mengabdi demi kesejahteraan rakyat, bukan memperkaya diri sendiri.
Pendidikan yang ideal bukanlah sekadar mencetak sarjana, melainkan membentuk manusia yang berkarakter kuat dan berjiwa sosial. Negara-negara seperti di Skandinavia menjadi contoh bagaimana pendidikan yang menekankan keseimbangan antara intelektualitas dan karakter mampu menciptakan masyarakat yang jujur dan beradab. Indonesia pun sejatinya memiliki dasar yang kuat melalui nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini adalah bagaimana nilai-nilai itu benar-benar dihidupkan dalam sistem pendidikan dan praktik kehidupan berbangsa.
Source: Youtube Anhar Gonggong Official