Transformasi pendidikan di Indonesia semakin mengarah pada sistem pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini terlihat dari berbagai kebijakan pemerintah yang mendorong digitalisasi sekolah, termasuk program Merdeka Belajar yang memperkuat integrasi teknologi dalam proses belajar-mengajar. Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), pada tahun 2025 lebih dari 75% sekolah di Indonesia telah memiliki akses internet dan menggunakan perangkat digital dalam kegiatan pembelajaran. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan lima tahun sebelumnya yang hanya mencapai 45%.
Penerapan teknologi di sekolah tidak hanya sebatas penggunaan perangkat seperti laptop dan proyektor, tetapi juga mencakup pemanfaatan platform digital sebagai sarana belajar. Learning Management System (LMS) seperti Rumah Belajar dan Google Classroom menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan digital nasional. Platform Rumah Belajar milik Kemendikbudristek, misalnya, telah diakses lebih dari 25 juta pengguna hingga pertengahan 2025, menandakan meningkatnya literasi digital guru dan siswa (sumber: kemdikbud.go.id).
Selain itu, pemerintah terus memperluas program Digital School Transformation (DST) yang fokus pada penguatan infrastruktur dan peningkatan kompetensi guru dalam teknologi pendidikan. Program ini melibatkan lebih dari 20 ribu sekolah di seluruh Indonesia, dengan tujuan menciptakan lingkungan belajar yang adaptif dan kolaboratif. Transformasi ini juga didukung oleh kerja sama dengan perusahaan teknologi global seperti Microsoft dan Google for Education dalam penyediaan pelatihan digital bagi tenaga pendidik.
Namun, upaya digitalisasi sekolah tidak lepas dari tantangan, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Masih terdapat kesenjangan akses internet dan keterbatasan perangkat digital yang menghambat pemerataan pendidikan berbasis teknologi. Menurut laporan We Are Social (2025), sekitar 13% sekolah di Indonesia masih belum memiliki konektivitas internet yang memadai. Kondisi ini menuntut kebijakan yang lebih inklusif agar seluruh peserta didik dapat menikmati manfaat transformasi digital tanpa terkecuali.
Di sisi lain, perubahan pola belajar akibat penerapan teknologi menuntut adaptasi dari guru dan siswa. Guru kini berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang memanfaatkan data dan analitik untuk memahami kebutuhan belajar peserta didik. Model pembelajaran berbasis Predictive Learning Analytics mulai diuji di beberapa sekolah menengah di Jakarta dan Yogyakarta, yang bertujuan memprediksi kinerja akademik siswa serta memberikan intervensi belajar secara personal.
Sementara itu, siswa menjadi lebih aktif dan mandiri dalam proses belajar. Teknologi memungkinkan mereka mengakses berbagai sumber belajar terbuka seperti Massive Open Online Courses (MOOC) dan video pembelajaran interaktif. Data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek menunjukkan bahwa penggunaan sumber belajar digital oleh siswa meningkat hingga 62% pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Integrasi teknologi dalam pembelajaran juga berpotensi memperkuat pendidikan karakter dan kolaborasi lintas sekolah. Melalui platform kolaboratif, siswa dari berbagai daerah dapat bekerja sama dalam proyek lintas kurikulum, sekaligus memperluas wawasan global mereka. Hal ini sejalan dengan visi Pendidikan Abad 21 yang menekankan penguasaan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (4C Skills).
Dengan berbagai langkah strategis yang tengah dijalankan, sekolah-sekolah di Indonesia kini berada di jalur yang tepat menuju sistem pembelajaran berbasis teknologi yang berkelanjutan. Transformasi ini bukan sekadar modernisasi sarana, tetapi juga pembaruan paradigma pendidikan yang menempatkan teknologi sebagai alat untuk memerdekakan proses belajar. Tantangan tentu masih ada, tetapi semangat kolaborasi antara pemerintah, guru, siswa, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pendidikan Indonesia siap bersaing di era digital global.