Sekolah Itu Candu
Buku Sekolah Itu Candu karya Romo Topatimasang kembali mencuri perhatian para pemerhati pendidikan Indonesia. Meskipun pertama kali diterbitkan pada tahun 1998, gagasan-gagasan dalam buku ini tetap relevan hingga kini. Edisi terbarunya yang diterbitkan oleh Insist Press pada Oktober 2024 menandai cetakan ke-23, menunjukkan betapa kuatnya daya tarik buku ini di kalangan pembaca yang haus akan pemikiran kritis mengenai sistem pendidikan nasional.
Buku ini dibuka dengan prolog fiksi yang menggugah imajinasi. Dikisahkan seorang tokoh bernama Sukardal yang hidup di tahun 2222 menemukan arsip kuno berjudul Sekolah. Dari sinilah pembaca diajak menelusuri sejarah panjang lembaga pendidikan sejak zaman Yunani kuno, ketika istilah “skole” berarti waktu senggang — masa di mana orang menggunakan waktu luangnya untuk berdiskusi dan mencari ilmu kepada para filsuf. Dalam konteks ini, sekolah awalnya bukan gedung formal, melainkan ruang belajar yang lahir dari rasa ingin tahu dan kebebasan berpikir.
Romo Topatimasang kemudian menelusuri perjalanan sistem pendidikan dari berbagai peradaban dunia, termasuk Tiongkok, Eropa, dan Nusantara. Ia menunjukkan bagaimana konsep sekolah yang semula bersifat bebas dan dialogis, perlahan berubah menjadi sistem yang hierarkis dan kaku akibat pengaruh revolusi industri. Sistem klasikal yang diadopsi Pestalozzi, misalnya, membentuk dasar struktur pendidikan modern: ada kelas, jenjang, dan kurikulum baku. Dari sinilah, Romo mulai menggugat: apakah sekolah masih menjadi ruang merdeka untuk belajar, atau justru penjara berpikir yang membatasi kreativitas?
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada gaya penulisannya yang ringan namun tajam. Hampir seluruh isi disajikan dalam bentuk dialog, membuat pembaca merasa seperti terlibat dalam percakapan reflektif. Beberapa bab bahkan ditulis dengan pendekatan seperti cerpen, membuat argumen-argumen filosofis menjadi mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Melalui gaya bercerita ini, Romo berhasil mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali makna “sekolah” dan “belajar”.
Bab berjudul Sekolah Itu Candu menjadi inti dari keseluruhan buku. Di dalamnya, Romo mengangkat kisah seorang siswa bernama Eko yang dikeluarkan dari sekolah karena melakukan penelitian dengan tema yang dianggap tidak lazim. Cerita ini menjadi metafora bagi sistem pendidikan yang menolak perbedaan dan keberanian berpikir. Melalui kisah tersebut, Romo mengajak pembaca merenungkan: apakah sekolah telah menjadi candu—tempat yang membuat manusia tergantung pada aturan dan nilai formal, namun kehilangan kebebasan berpikir kritis?
Kritik Romo terhadap dunia pendidikan tidak hanya menyoroti sekolah sebagai institusi, tetapi juga budaya belajar masyarakat. Ia menilai bahwa sistem pendidikan formal sering kali gagal memahami tujuan sejatinya: membentuk manusia yang berpikir mandiri, bukan sekadar patuh pada standar. Ketika sekolah terlalu menekankan kepatuhan, ujian, dan ranking, maka proses belajar kehilangan maknanya. Dalam kondisi seperti itu, siswa menjadi pasif dan kreativitas mereka teredam.
Meski ditulis lebih dari empat dekade lalu, banyak pemikiran Romo yang masih relevan. Buku ini tetap menjadi cermin bagi dunia pendidikan modern yang kerap terjebak dalam rutinitas administratif. Namun, konteks zaman memang telah berubah. Kritik Romo terhadap seragam sekolah, kurikulum kaku, atau larangan berpendapat bebas, kini mulai dijawab oleh reformasi pendidikan melalui pendekatan kurikulum merdeka yang lebih interaktif dan dialogis. Meski demikian, esensi pertanyaannya tetap sama: apakah sekolah benar-benar sudah menjadi tempat yang memerdekakan?
Romo Topatimasang sendiri dikenal sebagai aktivis dan pemikir pendidikan yang berani melawan arus. Pada masa Orde Baru, ia pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa IKIP Bandung (kini UPI) dan ditahan karena menentang kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK). Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa pendidikan sejati tidak mungkin lahir dari sistem yang mengekang kebebasan berpikir. Ia melihat pendidikan sebagai alat pembebasan, bukan alat kekuasaan.
Dalam konteks kekinian, Sekolah Itu Candu dapat dibaca sebagai ajakan untuk merefleksikan kembali arti “merdeka belajar”. Sekolah seharusnya tidak sekadar tempat menjejalkan pengetahuan, tetapi ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kebebasan berekspresi, dan empati sosial. Guru bukan lagi penguasa kelas, melainkan pendamping yang menumbuhkan kesadaran berpikir kritis pada siswanya. Dengan demikian, pendidikan bisa kembali pada hakikatnya: membentuk manusia yang sadar, bukan sekadar pintar.
Membaca Sekolah Itu Candu bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memahami tantangan masa kini. Buku ini menegaskan bahwa perubahan pendidikan tidak cukup dilakukan lewat kebijakan, tetapi harus dimulai dari kesadaran individu—baik guru, siswa, maupun masyarakat. Dengan gaya penulisan yang reflektif dan penuh humor intelektual, Romo Topatimasang mengingatkan kita bahwa sekolah seharusnya bukan candu yang meninabobokan, melainkan ruang yang membebaskan manusia untuk berpikir dan bertumbuh.
Source: Buku "Sekolah Itu Candu" dan Youtube Anies Baswedan