Warisan Gagasan Paulo Freire yang Tak Lekang Waktu
Lebih dari setengah abad setelah diterbitkan, buku Pedagogy of the Oppressed atau Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire masih menjadi rujukan penting dalam diskusi global tentang pendidikan dan keadilan sosial. Karya monumental ini mengubah cara pandang dunia terhadap makna belajar, mengajar, dan kekuasaan dalam ruang pendidikan. Di tengah sistem yang sering kali menekankan kepatuhan dan hafalan, Freire menghadirkan pandangan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan, bukan menindas.
Freire lahir di Brasil pada tahun 1921, dalam kondisi sosial ekonomi yang sulit. Pengalamannya tumbuh di tengah krisis dan kemiskinan membentuk kesadarannya bahwa pendidikan bukan sekadar alat untuk memperoleh pekerjaan, melainkan sarana untuk memahami dan mengubah dunia. Ia percaya bahwa pendidikan harus menumbuhkan kesadaran kritis — sebuah kemampuan untuk membaca realitas sosial dan mengenali ketidakadilan yang tersembunyi di balik rutinitas kehidupan sehari-hari.
Melalui bukunya, Freire mengkritik keras sistem pendidikan tradisional yang ia sebut sebagai pendidikan gaya bank. Dalam model ini, guru dianggap sebagai “penyetor pengetahuan” dan siswa hanyalah “rekening kosong” yang siap diisi. Bagi Freire, pendekatan seperti ini menjadikan peserta didik pasif dan tidak memiliki ruang untuk berpikir kritis. Pendidikan semacam itu, menurutnya, justru memperkuat struktur penindasan karena menciptakan manusia-manusia yang patuh dan tidak mempertanyakan ketidakadilan.
Sebagai alternatif, Freire menawarkan konsep pendidikan dialogis — pendidikan yang berakar pada percakapan dan kesetaraan. Dalam ruang belajar yang dialogis, guru dan murid sama-sama menjadi subjek yang berpikir, berdiskusi, dan bertumbuh bersama. Relasi kekuasaan yang biasanya timpang di ruang kelas diubah menjadi relasi kemanusiaan yang saling menghargai. Pendidikan, dengan demikian, menjadi proses pembebasan yang menumbuhkan kesadaran sosial, bukan sekadar transfer ilmu.
Inti gagasan Freire adalah bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan pendidikan adalah tindakan politik. Pilihan tentang siapa yang diajar, apa yang diajarkan, dan bagaimana cara mengajarkannya, semua memiliki konsekuensi sosial dan politik. Pendidikan dapat digunakan untuk melanggengkan ketidakadilan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk membangun masyarakat yang lebih adil. Dalam konteks ini, guru bukan hanya pengajar, melainkan juga agen perubahan sosial.
Buku Pendidikan Kaum Tertindas kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai gerakan sosial di Amerika Latin, Afrika, dan bahkan Amerika Serikat. Pendekatan Freire mengilhami program pemberdayaan masyarakat, literasi kritis, hingga gerakan pendidikan rakyat. Meski lahir dari konteks politik Brasil pada 1960-an, gagasan-gagasannya melintasi batas geografi dan zaman. Freire mengingatkan dunia bahwa keadilan sosial dimulai dari kesadaran individu akan realitas yang menindasnya.
Meski begitu, Freire tidak lepas dari kritik. Sebagian pembaca menilai bahasanya terlalu teoritis dan idealistik. Ada pula yang menganggap konsep “pendidikan pembebasan” sulit diterapkan dalam sistem formal yang birokratis. Namun, bagi banyak pendidik dan aktivis, karya ini tetap menjadi fondasi moral dan intelektual yang menginspirasi perubahan. Freire bukan sekadar menulis teori; ia menulis pengalaman dan keyakinan bahwa manusia dapat berubah melalui kesadaran kritis.
Salah satu konsep paling terkenal dari Freire adalah conscientização — kesadaran kritis yang mendorong seseorang memahami bahwa ketimpangan bukanlah hal alami, melainkan hasil dari sistem yang dapat dan harus diubah. Dengan kesadaran ini, pendidikan menjadi proses reflektif yang menumbuhkan keberanian untuk mempertanyakan: siapa yang diuntungkan dari situasi ini, siapa yang dirugikan, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.
Dalam dunia pendidikan saat ini, gagasan Freire terasa semakin relevan. Di tengah ketimpangan sosial, komersialisasi pendidikan, dan tekanan terhadap kebebasan akademik, pandangan bahwa “pendidikan adalah tindakan politik” kembali menguat. Guru dan pelajar ditantang untuk tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memahami konteks sosial di baliknya. Freire mengingatkan bahwa belajar sejati dimulai dari keberanian untuk berpikir dan bertindak demi perubahan.
Lebih dari sekadar buku teori, Pendidikan Kaum Tertindas adalah seruan moral bagi dunia pendidikan. Ia menuntut kita untuk melihat kembali tujuan belajar: bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang sadar, kritis, dan berani memperjuangkan keadilan. Seperti yang ditulis Freire, perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara kita memandang diri dan dunia di sekitar kita — dan pendidikan yang membebaskan adalah langkah pertama menuju perubahan itu.
Source: Buku Pedagogy of the Oppressed