Webinar Internasional Bahas Integrasi Kearifan Lokal dan Tren Global dalam Pendidikan
Pendidikan di era globalisasi dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan dunia tanpa kehilangan identitas budaya lokal. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam webinar internasional bertema “Local Wisdom vs Global Education Trends” yang diselenggarakan secara daring pada 28 April 2026 oleh Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dengan menghadirkan narasumber dari berbagai negara.
Webinar ini menjadi wadah diskusi bagi para akademisi, praktisi pendidikan, serta mahasiswa dari berbagai negara untuk berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai-nilai lokal dan tuntutan pendidikan global yang terus berkembang.
Dalam diskusi tersebut, para pemateri sama-sama menyatakan bahwa pendidikan tidak perlu memilih antara mempertahankan budaya lokal dan mengikuti perkembangan global. Sebaliknya, keduanya harus dapat dipadukan secara harmonis agar peserta didik mampu berkembang menjadi individu yang berkarakter kuat sekaligus siap menghadapi tantangan dunia internasional. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini, namun tetap terbuka terhadap inovasi dan perubahan zaman.
Profesor Anik Ghufron dalam pemaparannya menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial sekaligus sarana pelestarian budaya. Menurutnya, nilai-nilai lokal seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, rasa tanggung jawab, dan kepedulian sosial masih sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran modern. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi global yang semakin kompleks.
Ia juga menjelaskan bahwa integrasi nilai budaya lokal dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif, seperti penggunaan permainan tradisional dalam kegiatan belajar, pengenalan cerita rakyat daerah, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda secara lebih menarik dan interaktif. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami budaya mereka sendiri, tetapi juga merasa bangga untuk melestarikannya.
Sementara itu, Profesor Madya Noor Dayana Abd Halim menyampaikan bahwa pendidikan global tidak harus mengorbankan identitas lokal. Beliau menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman, seperti metode bercerita, praktik langsung, diskusi kolaboratif, serta program magang yang dinilai tetap efektif meskipun teknologi pendidikan terus berkembang. Menurutnya, pengalaman nyata dalam proses belajar dapat membantu peserta didik memahami nilai budaya secara lebih mendalam.
Namun demikian, beliau juga menyoroti berbagai tantangan dalam implementasi teknologi pendidikan, khususnya di daerah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, akses internet, dan kompetensi sumber daya manusia. Kondisi tersebut menyebabkan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan belum dapat dirasakan secara merata oleh semua peserta didik.
Pemateri lainnya, Professor Victoria Chen Chin Yu, membagikan pengalaman Taiwan dalam mengembangkan program “Twin Cities, Twin Schools”. Program tersebut menghubungkan sekolah-sekolah dari berbagai negara untuk saling bertukar budaya, pengalaman belajar, dan memperluas wawasan global peserta didik. Melalui webinar ini, ditegaskan bahwa masa depan pendidikan terletak pada kemampuan mengintegrasikan nilai lokal dengan perkembangan global secara seimbang dan berkelanjutan.
Kesimpulan dari webinar kali ini menegaskan bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan global secara seimbang. Dengan memadukan budaya, inovasi, dan teknologi, pendidikan dapat membentuk peserta didik yang berkarakter kuat, memiliki identitas budaya yang kokoh, serta mampu bersaing dan beradaptasi di tingkat global.
Penulis: Karina Rahayu Edta Putri